Breaking News:

Kontroversi Gafatar

Sangkaan Makar dan Penistaan Agama Terhadap Musadeq Cs Dianggap Tak Tepat

"Tuduhan penistaan agama ini muncul karena adanya (Ahmad) Musaddeq yang sebelumnya sempat berkasus,"

Tribunnews.com/ Nurmulia Rekso Purnomo
Tim Advokasi Hukim eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), saat menggelar konfrensi pers, di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2016). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnommo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polisi menahan tiga orang terkait kasus organsasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yakni Ahmad Musaddeq, dan dua pimpinan organisasi Gafatar, Abdul Muis Tumanurung dan Andri Cahaya.

Ketiganya dituduh melakukan penistaan agama dan makar.

Kuasa hukum para tersangka, Bahrain, mengatakan sangkaan Polisi itu tidak tepat, justru anggota Gafatar adalah korban.

Karena organisasi mereka berbadan hukum jelas dan mereka telah menjadi korban dari pengusiran dari Mempawah, Kalimantan Barat, pada Januari lalu.

"Teman-teman Gafatar ini adalah korban ketidakadilan,"ujar Bahrain dalam konfrensi pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2016).

Di Mempawah para anggota Gafatar melakukan cocok tanam.

Hal itu menurut Bahrain sinkron dengan program pemerintah untuk mengejar Indonesia berdaulat secara pangan.

Namun, warga justru mengusir mereka dari tanah yang mereka miliki secara sah dan negara tidak membantu mereka mempertahankan hak mereka.

Suriyadi W Eddyono, peneliti Institute For Criminal Justice Reform (ICJR), dalam kesempattan yang sama menambahkan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa anggota Gafatar memiliki senjata dan melakukan hal-hal tertentu untuk memerdekakan wilayahnya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Halaman
12
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved