Breaking News:

Pengakuan Freddy Budiman

Buwas Minta Izin Menkumham Gali Keterangan Mantan Kalapas Nusakambangan Terkait Freddy Budiman

Badan Narkotika Nasional (BNN) meminta izin Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) sebelum menggali keterangan dari mantas Kalapas Nusakambangan, Liberty

Tribunnews.com/ Wahyu Aji
Kepala BNN Budi Waseso 

Lantas Haris membuka tabir gelap itu Kamis malam atau sehari sebelum Freddy dieksekusi mati pada Jumat dini hari, 30 Juli 2016.

Kepada Haris, Freddy mengaku bukan bandar narkoba, melainkan operator penyelundupan skala besar.

Bosnya ada di Cina.

Setiap kali akan membawa barang masuk, dia lebih dulu menghubungi polisi, Badan Narkotika Nasional, serta Bea dan Cukai untuk kongkalikong.

"Orang-orang yang saya telepon itu semuanya nitip (menitip harga)," kata Freddy kepada Haris seperti tertulis dalam pernyataannya.

Harga yang dititipkan itu beragam. Dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu. Freddy tak pernah menolak. Sebab dia tahu harga sebenarnya yang dikeluarkan pabrik hanya Rp 5.000 per butir.

"Makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya," ucap Freddy.

Dengan modal Rp 10 miliar Freddy bisa meraup triliunan karena harga satu butir narkoba di pasaran berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

Dia bisa membagi puluhan miliar ke beberapa pejabat.

Selama beberapa tahun bekerja sebagai penyelundup, ia terhitung menyetor Rp 450 miliar ke BNN dan Rp 90 miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri.

Halaman
1234
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved