Memburu Jaringan Teroris Santoso

Baku Tembak dengan TNI-Polri, Anak Buah Santoso yang Bawa Senjata M16 Berhasil Kabur

Dalam baku tembak yang terjadi selama sekitar 20 menit tersebut, satu orang tewas.

Baku Tembak dengan TNI-Polri, Anak Buah Santoso yang Bawa Senjata M16 Berhasil Kabur
PENKOSTRAD
Ilustrasi prajurit Kostrad yang masuk Satgas Tinombala. 

TRIBUNNEWS.COM, POSO - Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala 2016 di Poso kembali berhasil melumpuhkan satu orang daftar pencarian orang (DPO) jaringan Santoso alias Abu Wardah dalam sebuah kontak tembak, Rabu (17/8/2016).

Dalam baku tembak yang terjadi selama sekitar 20 menit di antara perkampungan Maros dengan Padopi, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, itu satu orang DPO tewas tertembak dan seorang lainnya berhasil melarikan diri dengan satu pucuk senjata M16.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto yang dikonfirmasi melalui saluran telepon pada Rabu sore ( 17/8/2016) menjelaskan, peristiwa kontak TNI-Polri dengan sisa kelompok Santoso pada Rabu pagi di Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir mengakibatkan 1 orang tewas.

Menurutnya, dari hasil penyelidikan sementara di lapangan, diduga kuat korban tewas berasal dari kelompok Santoso yang bernama Ibrohim berkebangsaan Uigur, Turkistan.

"Tim Satgas di lapangan masih terus bekerja dan melakukan pengejaran terhadap 1 DPO yang melarikan diri. Sementara yang tewas masih ditangani oleh Satgas untuk dilakukan evakuasi jenazah dan selanjutnya diangkut ke RSU Bhayangkara untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," jelas AKBP Hari.

Sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun dan resmi dikeluarkan oleh Satgas IV Tinombala 2016, peristiwa itu terjadi saat Tim Satgas Tinombala yang sedang melakukan patroli dan penyisiran bertemu dengan 2 orang yang tidak dikenal (OTK) pada pukul 8.35 Wita.

Baku tembak tidak terhindarkan setelah ke 2 orang tidak dikenal itu melepaskan tembakan dan melempar bom lontong (rakitan) ke arah petugas yang meneriaki mereka dengan kata sandi dalam Operasi Tinombala 2016.

Dengan tewasnya Ibrohim ini, jumlah anggota kelompok Santoso yang diburu dalam pelaksanaan Operasi Tinombala 2016 itu kini tinggal 15 orang.

Ibrohim sebelumnya merupakan WNA terakhir yang bergabung dalam kelompok teroris di Poso, dari keseluruhan sekitar 6 WNA asal Uighur yang juga tewas dalam serangkaian kontak tembak yang terjadi antara kelompok itu dengan pasukan gabunganTNI–Polri.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah yang tergabung dalam pelaksanaan Operasi Tinombala 2016 di Poso belum memberikan keterangan secara resmi kapan jenazah Ibrohim akan diberangkatkan ke Palu.

Berdasarkan hasil olah TKP sementara, selain ditemukan satu orang tewas, dari lokasi kontak, tim gabungan juga menemukan sejumlah barang bukti berupa 1 buah bom rakitan jenis lontong, rompi, tenda serta sejumlah perlengkapan memasak lainnya.

Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved