Teror Bom di Samarinda

Anggota Komisi I Minta Program Deradikalisasi Dievaluasi

Komisi I DPR RI mengusulkan perlu evaluasi program deradikalisasi untuk mantan terpidana kasus terorisme.

Anggota Komisi I Minta Program Deradikalisasi Dievaluasi
TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi
Pengunjukrasa yang tergabung dalam Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Medan melakukan aksi damai pengecaman aksi teror yang terjadi di Samarinda, dengan menyalakan lilin dan tabur bunga di Bundaran Majestik, Medan, Sumatera Utara, Selasa (15/11/2016). Dalam aksinya mereka mendoakan keluarga korban peristiwa tersebut agar diberi ketabahan dan menyerukan perdamaian dunia untuk terciptanya kebahagian umat manusia.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR Zainudin Amali menilai program deradikalisasi perlu dievaluasi menyusul mantan pelaku teror kembali beraksi.

Pelempar bom molotov di muka Gereja Oikumene, Samarinda, belakangan diketahui bernama Joh alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, yang pernah dipenjara dalam kasus terorisme.

Joh menjalani hukuman pidana sejak 2012 akibat terlibat kasus peledakan bom buku di Jakarta pada 2011.

"Pernah dihukum karena teror, setelah bebas melakukan lagi. Ada sesuatu yang belum pas. Kita harapkan mengupdate terus aparat kita untuk mengantisipasi teror ini," kata Amali di Kompleks DPR-MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/11/2016).

Amali menilai partisipasi masyarakat penting untuk aktif melaporkan hal yang mencurigakan untuk mencegah teror serupa terjadi di mana pun.

"Undang-undang (pemberantasan terorisme) harus diperjelas peran aparat menangani teroris," sambung politikus Partai Golkar ini.

Amali meminta pemerintah memberikan perhatian kepada korban aksi terorisme, meliputi perlindungan korban, kompensasi serta penanganan trauma.

"Teror menimbulkan ketakutan. Meneror orang membuat orang tidak tenang, itu targetnya. Bagaimana upaya menangkal ini sedini mungkin," sambung Amali.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Y Gustaman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved