Di Hari Valentine, 51 Persen Orang Melakukan 'Itu'

Data Durex, tambahnya, juga menyebutkan bahwa penjualan kondom tertinggi jatuh pada hari cinta dan intimasi tersebut

Di Hari Valentine, 51 Persen Orang Melakukan 'Itu'
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Puluhan siswa SMP Muhammadiyah 2 Surabaya saat menggelar aksi menolak peringatan Hari Valentine di depan gedung Grahadi Surabaya, Senin (13/2/2017). Mereka mengajak masyakat untuk tidak merayakan Hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari karena dinilai bukan budaya Indonesia. (SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ) 

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel menuturkan, kebiasaan perayaan Hari Valentine alias Hari Kasih Sayang setiap 14 Februari, cukup berisiko bagi para remaja dan anak-anak.

Ada beberapa dasar terukur yang membuat Valentine's Day harus diwaspadai para orangtua. Di antaranya, kata Reza, data survei Kristen Mark yang menyebutkan bahwa 85 persen responden menganggap seks sebagai perkara penting pada perayaan di Hari Valentine.

"Begitu pula Sigi National Retail Federation, yang menyebutkan 51 persen orang akan melakukan 'itu' atau seks, pada momen yang diidentikkan sejumlah kalangan sebagai hari kasih sayang," kata Reza, kepada Warta Kota, Selasa (14/2/2017).

Data Durex, tambahnya, juga menyebutkan bahwa penjualan kondom tertinggi jatuh pada hari cinta dan intimasi tersebut, di mana kenaikan penjualan pada hari tersebut mencapai 25 persen.

"Nah, kita punya dasar terukur untuk super hati-hati menjelang 14 Februari. Ini menjadi lebih berisiko lagi bagi anak-anak, karena mereka secara umum adalah peniru yang baik. Apalagi karena kematangan fisik dan seksual anak-anak zaman sekarang datang lebih cepat, tanpa disertai kematangan psikis dan moral yang setara," tuturnya.

Karenanya, Reza mengajak para orangtua untuk mengingatkan buah hati atau anak-anak atas hal ini.

"Kehamilan di luar nikah, penyakit menular seksual, dan kemungkinan digaruk masyarakat dan Satpol PP adalah kemungkinan yang nyata. Ujung-ujungnya studi bisa terputus, masa depan morat-marit, dan nama baik keluarga pun terjun bebas," jelasnya.

Lalu, tambah Reza, apakah 14 Februari memang perlu dijadikan sebagai hari istimewa?

"Ah, biasa aja keles," cetus Reza. (Budi Sam Law Malau)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved