Breaking News:

Lebaran 2017

Idul Fitri Sebagai Momentum Meningkatkan Produktivitas

Mudik lebaran dianalogikan sebagai ziarah budaya menuju kampung halaman rohani

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Sejumlah kendaraan mengantre keluar pintu tol Sei Rampah, di Serdangbedagai, Sumatera Utara, Jumat (23/6/2017). Memasuki puncak Lebaran H-2, volume kendaraan pemudik mulai meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Idul Fitri 1438 Hijriah diharapkan terjadi transformasi nilai dan spirit untuk kemajuan bangsa, utamanya meningkatkan produktivitas.

Mudik Lebaran yang berubah bentuk menjadi tradisi yang universal seharusnya bernuansa tidak sekedar bermuatan artikulasi fisik, tetapi dapat ditransformasikan secara budaya menjadi mudik rohani yang memberikan spiritual dan berbuah etos kerja yang didorong semangat kompetisi global dalam berbagai bidang.

Mudik lebaran dianalogikan sebagai ziarah budaya menuju kampung halaman rohani untuk menyerap energi guna bersaing secara lokal maupun global.

Dari sisi lini waktu, mudik adalah segmen pendek dari waktu kerja selama setahun.

"Namun waktu mudik yang relatif singkat itu harus berbuah hikmah yang berlimpah untuk memulihkan energi jiwa. Alangkah baiknya jika ritual mudik ditranformasikan menjadi nilai daya saing di medan kerja," kata Pendiri Euro Management Indonesia Bimo Sasongko kepada Tribunnews, Jakarta, Senin (26/6/2017).

Para pemudik sebetulnya merupakan eksponen-eksponen kecil dari sebuah kolektivitas.

Dari kolektivitas kampung, desa, kota, pulau, provinsi hingga menjadi sebuah kolektivitas kebangsaan. Semua bergerak menuju fitrah yang sama, yakni harkat kemanusiaan dan keadilan sosial.

Dalam predikat sosial yang sangat beragam, dari kaum buruh, pedagang, aparatur negara, guru, hingga pejabat pemerintah, semuanya ingin dimuliakan secara tulus.

Bahwa kolektivitas kebangsaan mestinya bisa menghasilkan sinergi yang hebat jika terkait dengan daya saing dan produktivitas.

Faktor non teknis untuk menggenjot produktivitas bangsa adalah mengartikulasikan tri-ukhuwah kebangsaan yang lahir dari nilai keislaman.

Ketiganya yakni mengembangkan sikap persaudaraan bukan hanya dengan sesama kaum Muslimin (ukhuwah Islamiyah), melainkan juga dengan sesama warga bangsa yang lain (ukhuwah wathoniyah) serta dengan warga dunia manapun tanpa diskriminatif (ukhuwah basyariyah).

Idul Fitri dan pemudik lebaran dalam aspek kebudayaan bisa memperteguh kebhinekaan dan memperkuat kebudayaan nasional.

Kebudayaan tidak sekedar seni tradisi. Lebih dari itu, kebudayaan bisa menggenjot produktivitas dan memajukan korporasi dan ketatanegaraan.

Serta membentuk sikap positif masyarakat yang selalu berusaha untuk maju atau sikap need of achievement.

"Nilai dan spirit Idul Fitri harus bisa merubah mentalitas bangsa dan ranah psikososial, alam kehidupan para buruh dan birokrat di negeri ini setelah lebaran harus lebih mencintai pekerjaan atau tidak boleh mengeluh setiap hari," kata dia.

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved