Rabu, 8 April 2026

Perjalanan Panjang Santri Asal Jember Untuk Bisa Belajar Di Turki

Sejumlah tahapan proses seleksi telah dijalani 136 santri dan santriwati Tahfidzul Quran yang mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di Turki.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/ Fitri Wulandari
Acara Wisuda dan Pelepasan 136 Santri dan Santriwati Tahfidzul Quran yang digelar di Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/7/2017), yang akan melanjutkan studi di Turki. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah tahapan proses seleksi telah dijalani 136 santri dan santriwati Tahfidzul Quran yang mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di Turki.

Risalatul Muhimah (20), santriwati asal Jember yang enggan diabadikan wajahnya itu pun menjelaskan tahapan seleksi yang ia jalani.

Mulai dari pendaftaran di Kantor Wilayah Kementerian Agama di Jawa Timur hingga pendalaman bahasa.

Awalnya, ia menjalani tes di Kantor Wilayah Kementerian Agama di daerah tempatnya tinggal sebagai tahapan awal.

Usai dinyatakan lulus tes, ia pun kemudian melanjutkan tahapan pada hafalan Al Quran.

"Pertama, tes dulu di Kementerian Agama daerah setempat, setelah masuk (seleksi), kita mulai menghafalkan (Al-Quran)," ujar Risalatul di Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/7/2017).

Sebelum masuk ke dalam hafalan Quran, ia terlebih dahulu harus membenahi pelafalan bacaan.

"Sebelum hafal itu kita membenarkan membaca (Al Quran)," jelasnya.

Setelah pelafalan bacaan tersebut dinyatakan benar, maka ia pun masuk pada program Tahfidz (menghafal) Al Quran.

"Setelah bacaan itu benar, kita masuk program Tahfidz," katanya.

Tahapan selanjutnya, kata Risalatul, ia pun menghatamkan Al quran dan melanjutkannya dengan pembelajaran bahasa yang akan ia gunakan sehari-hari di Turki.

"Nah setelah kita hatam (Al Quran), itu kita pendalaman bahasa Turki," katanya.

Proses seleksi tersebut ia jalani selama 3 tahun.

Saat ditanya apakah dirinya merasa kesulitan mempelajari bahasa tersebut.

Ia mengaku sempat merasa kesulitan, lantaran bahasa Turki bukan bahasa yang digunakan banyak negara, seperti bahasa Inggris.

"Awalnya sulit, karena beda dengan bahasa Inggris," katanya.

Nantinya, Risalatul akan menempuh studi di Kota Balikesir.

Sementaran santri lainnya akan tersebar di sejumlah kota lainnya, seperti Ankara, Istambul, Bursa, serta sejumlah kota lainnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved