Pesona Bung Karno di Mata Wanita: Doyan Pencitraan, Tapi Selalu Sopan dan Hormat pada Wanita

"Betapa baiknya Bung Karno, saya tidak percaya beliau dianggap jahat atau terlibat dalam kejahatan," kata Rima Melati.

Pesona Bung Karno di Mata Wanita: Doyan Pencitraan, Tapi Selalu Sopan dan Hormat pada Wanita
arsipnasional.com
Bung KArno dikelilingi wanita cantik. 

Dalam masa Bung Karno membenci musik Barat yang diistilahkannya "Ngak-ngikngok", Titiek menyanyikan lagu ciptaannya, Marilah Kemari, yang berirama cepat.

Bung Karno langsung menghardik, "Eit, siapa yang meminta lagu itu?! Ayo ganti lagu, kita berlenso saja!" Titiek yang ketakutan, belakangan lega karena yang dimarahi bukan dirinya, melainkan orang yang meminta dia melagukannya.

"Tapi marahnya tidak berpanjang- panjang. Malah menurut saya Bung Karno tidak marah, kok. Cuma gusar," kenang Titiek.

Di situlah Titiek Puspa tahu, Bung Karno orang yang sangat imbang, bijak, sekaligus penuh penghargaan.

Titiek cukup dekat dengan Bung Karno, dan hubungan keduanya bagaikan bapak dengan anak. Dalam banyak perjamuan Titiek kebagian "tugas" mengupaskan mangga untuk Bung Karno.

"Beberapa kali saya diberi uang langsung dari kantong celananya, di depan banyak orang. Katanya buat belanja atau untuk dibagi dengan teman-teman.

Padahal honor dari sekretariat presiden tetap dibayarkan. Bagi saya, perlakuan itu sungguh mengesankan, tidak soal jumlah uangnya berapa. Sangat manusiawi.

Kita bisa membayangkan, betapa presiden pada masa itu mengeluarkan sendiri uang dari saku celana, tidak main tunjuk lantas orang lain yang sibuk mengeluarkan uang,-" lanjut Titiek.

Sepatu bolong

Bung Karno memang dikenal apa adanya, tidak hipokrit, dan tidak banyak menyembunyikan kenyataan. Salah satu yang diingat Titiek Puspa adalah perihal sepatunya yang berlubang di salah satu bagian ujung, katanya agar tidak mengganggu pangkal jarinya yang bengkak oleh mata ikan.

"Banyak orang tahu, beliau tidak sungkan memperlihatkan jarinya yang bubulen sehingga perlu sepatu khusus," sambung Titiek.

Rima Melati, aktris-sutradara dan mantan peragawati yang kini 62 tahun, awal mulanya tidak tahu sepatu berlubang itu membawa alasan medis pemakainya.

"Tadinya saya cuma heran, lo kok sepatu Bapak bagus-bagus tetapi bolong. Sambil ketawa Bung Karno bilang, jarinya kena mata ikan. Terus tanpa sungkan memperlihatkannya," kata Rima, yang tahun 1959 sampai awal 1960-an cukup dekat dengan Presiden Soekarno karena sering meramaikan acara di Istana Merdeka maupun Istana Bogor.

la salah satu dari empat personel Baby Dolls yang terdiri atas Rima Melati, Baby Huwae (meninggal tahun 1989), Gaby Mambo, dan Indriati Ishak.

Bung Karno kebetulan pernah dikenal Rima di masa kecil. Ketika presiden itu memerintah di Yogyakarta, sekitar Clash II tahun 1949, Rima pernah diajak orang tuanya berkunjung.

Sepuluh tahun kemudian, Rima yang sudah menjadi bintang film, bertemu lagi dengan Bung Karno di Jakarta.

Sejak itu ia sering terlibat dalam banyak kegiatan di istana.

Suatu saat ibunya, perancang dan perintis dunia mode Indonesia, Non Kawilarang, pergi ke Hongkong. Rima yang tomboi sejak remaja, ingin memakai mobil ibunya.

Sayang ia tak punya uang untuk membeli BBM secara rutin. Maka ia minta kepada Bung Karno agar diizinkan mengisi tangki mobilnya di pompa bensin istana. Ternyata diizinkan.

"Kalau kebetulan Bung Karno ada, saya mampir dan ngobrol-ngobrol. Beliau banyak memotivasi saya, memberi saran untuk membaca buku tokoh-tokoh wanita dunia, dan bercerita tentang banyak hal," kata Rima.

Sisi kemanusiaan Bung Karno banyak terlihat di saat senggang.

Pernah suatu kali Rima menawarkan rokok kepada Bung Karno, dan diterima, tanpa diembel-embeli nasihat tentang kesehatan atau bahaya rokok.

Ihwal nama Rima Melati, yang banyak diduga orang pemberian Bung Karno, si pemilik nama punya cerita berbeda.

Sekitar awal 1960-an Bung Karno suka mengganti nama orang yang dikenalnya, yang dirasa kebarat-baratan.

Maka nama Baby Huwae disarankan untuk diganti Lokita Purnamasari - dan sampai akhir hayatnya Baby Huwae memakai nama itu.

Sedangkan Marjolein Tambajong, panggilannya Leintje, nama asli Rima Melati, memang pernah dikatakan kebarat-baratan oleh Bung Karno.

Mafjolein yang ketika itu sedang mengandung anak kedua, ingin memberi nama Rima kepada si anak jika perempuan.

la diilhami tokoh Rima the Bad Girl dalam film Green Mansions (1959) yang diperani Audrey Hepburn.

Sayang, janin itu meninggal sebelum dilahirkan. Leintje yang terpukul, menceritakan peristiwa itu kepada Bung Karno, sekaligus mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih nama Rima, di'kombinasi dengan "Melati".

"Bung Karno bilang, That's a good name. Sejak saat itu beliau selalu memanggil saya Rima Melati. Kepada setiap orang beliau memperkenalkan saya sebagai Rima Melati."

Bisa mencitrakan diri

Hubungan yang cukup dekat tidak lantas berubah karena Rima merasa, Bung Karno sangat piawai menempatkan diri. Sekaligus mencitrakan diri.

“Kami bagaikan Bapak dan anak, dan menurut saya karena beliau memang membuatnya seperti itu. Mungkin dengan wanita lain beliau mencitrakan diri berbeda sehingga akibatnya berbeda, saya tidak tahu,” kata rima.

Rima tahu, belakangan ada temannya yang menjadi kekasih Bung Karno, namun ia tidak peduli. “Dan rasa hormat saya kepada Bung Karno tidak berubah.”

Satu hal yang membuat Rima kecewa adalah ketika ia telah capek-capek berlatih mengibarkan bendera pusaka untuk upacara 17 Agustus di istana, pada saat-saat terakhir ia tersisihkan, diganti gadis lain yang belakangan santer dikabarkan sebagai kekasih Bung Karno.

Rima Melati, yang ketika di bangku SD Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) satu kelas dengan Abdurrahman Wahid, menambahkan kekagumannya pada Bung Karno karena rasa kemanusiaannya.

Ceritanya, suatu ketika ia diajak sahabatnya, Fifi Maukar, mengunjungi kakak Fifi di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

Si kakak, Letnan Udara II, Daniel Alexander Maukar, dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Angkatan Udara gara-gara pada 9 Maret 1960, dengan pesawat Mig-17, memberondong Istana Merdeka, Istana Bogor, serta kompleks kilang minyak Tanjungpriok.

Dari beberapa kali kunjungan, Rima jatub hati kepada Daniel. la tergerak untuk memohonkan keringanan hukuman kepada Kepala Negara, selagi ia punya kemudahan untuk bertemu.

Kepada Bung Karno Rima mengutarakan maksudnya, dan dijawab dengan pertanyaan, "Apakah dia menyesal?"

Karena Rima tidak tahu, keesokan harinya ia kembali ke Cipinang untuk bertanya. Kemudian Rima menemui Bung Karno lagi dan bilang bahwa Daniel menyesal.

Maka Bung Karno menyarankan agar Daniel membuat surat permohonan. Maksudnya agar Bung Karno memiliki pegangan tertulis untuk memberi grasi.

"Eh, sialnya, Daniel enggak mau tulis surat. Saya jadi benci dia," Rima bicara dalam nada tinggi.

Biarlah menjadi sejarah

Kharisma Bung Karno yang besar acap kali menutupi kelemahannya. Misalnya soal kaum wanita di sekitarnya, termasuk beberapa yang diperistri.

Mantan bintang film yang kini bergerak dalam usaha height forwarding sekaligus aktivis yayasan sosial, Gabrielle (Gaby) Mambo (60), awalnya kecewa karena Bung Karno menikah lagi.

Namun belakangan ia maklum, karena itu kenyataan yang acap dialami tokoh-tokoh besar lain.

Menjelang 1960-an Gaby beberapa kali ikut dalam acara di istana. Sebagai anggota kelompok yang tubuhnya paling kecil, ia selalu berdiri paling belakang.

Rupanya, Bung Karno menangkap ketakutan Gaby.

"Saya malah dipanggil, disuruh mendekat, dan kadang disuruh cium pipi," cerita Gaby.

Justru karena merasa dipandang agak khusus oleh Bung Karno, lama-kelamaan Gaby merasa dekat.

"Hebatnya Bung Karno, sekalipun tahu saya takut, beliau tidak lantas nakal atau kurang ajar. Saya tetap dihormatinya, diperlakukan seperti anaknya."

Tahun 1961 - 1966 Gaby sekolah desain interior di Jepang. Di masa-masa itu ia sering bertemu ketika Bung Karno berkunjung ke Jepang.

"Dalam perjamuan dengan Ratna Sari Dewi, saya sering kebagian tugas membuatkan teh untuk Bung Karno. Saya hapal beliau tidak mau pakai gula, tetapi sakarin," kenang Gaby.

Namun sekembalinya Gaby ke Indonesia, situasi telah banyak berubah. Ia tak pernah lagi bertemu dengan Bung Karno. Demikian pula Mien Soedarpo, Rima Melati, dan Titiek Puspa.

"Betapa baiknya Bung Karno, saya tidak percaya beliau dianggap jahat atau terlibat dalam kejahatan," kata Rima Melati.

Memang" banyak faktor politik yang terjadi dan mengubah situasi, namun tak cukup meyakinkan Rima Melati, Titiek Puspa, Mien Soedarpo, atau Gaby Mambo bahwa Bung Karno bersalah.

Tapi itulah sejarah. Titiek Puspa mengatakan, "Kalau dihitung plus-minusnya, perhatian dan jiwa raga yang diberikan kepada negara jauh lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau kelemahannya."

Sementara Gaby Mambo menanggapi, "Nobody's perfect. Yang penting dia berbuat sangat banyak untuk negara ini." (Sht/SL)

Reporter : K. Tatik Wardayati

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Mei 2001

Editor: Hasanudin Aco
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved