Breaking News:

Pendekatan Persuasif Terhadap Penyandera Penting Untuk Hindari Korban

Dengan proses negosiasi tersebut, ia menyebut tidak ada tengat waktu yang ditentukan oleh Polisi.

Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memberikan keterangan kepada wartawan terkait teroris Bima di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (31/10/2017). Densus 88 Polri terlibat baku tembak dengan teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat, yanng menyebabkan 2 teroris meninggal dan menyita sejumlah barang bukti. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menangani kasus penyanderaan warga sipil di Kampung Kimbely dan Kampung Banti, Tembagapura, Mimika, Papua, Polisi menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, Polisi akan mengkedepankan pendekatan persuasif, antara lain melalui negosiasi.

Kepada wartawan usai ia menghadiri upacara peringatan Hari Pahlawan, di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017), Setyo Wasisto menyebut pendekatan persuasif melalui negosiasi penting untuk dilakukan, antara lain untuk menghindari korban, terutama dari pihak korban penyanderaan.

"Kita mengupayakan adanya negosiasi, karena dengan negosiasi, diharakan tidak timbul korban yang lebih banyak, nanti kalau korbannya masyarakat, kasihan," katanya.

Dengan proses negosiasi tersebut, ia menyebut tidak ada tengat waktu yang ditentukan oleh Polisi.

Baca: Pemprov DKI Bangun Rumah Berlapis di 16 Perkampungan Kumuh

Kadiv Humas Mabes Polri mengatakan hal tersebut sangat tergantung dengan perkembangan dari upaya yang dilakukan Polri yang dibantu oleh TNI.

"Negosiasi tidak melihat waktu, bisa besok lusa, bisa minggu depan tergantung ekskalasinya seperti apa," katanya.

Penyanderaan tersebut dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), yang memang sudah berkali-kali membuat ulah di Papua.

Warga yang mereka sandera, jumlahnya belum bisa ditentukan menurut Setyo Wasisto, namun dari kampung-kampung yang mereka kuasasi, total jumlah pendatangnya mencapai 300 orang.

Informasi yang diterima Polisi menyebutkan warga yang berkelamin perempuan, masih diizinkan untuk meninggalkan kampung jika hendak pergi ke pasar.

Namun warga tidak bisa melakukan aktivitas mencari nafkah seperti biasanya, termasuk para pendatang yang umumnya bekerja sebagai penambang emas ilegal.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Produk Populer

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved