Suap Pejabat BPK

Auditor BPK Ali Sadli Ngaku Cicil Beli Robicon dari Honor Uang Perjalanan Dinas

Satu diantara mobil mewah yang dimilikinya ialah Jeep Wrangler Rubicon tahun 2014 seharga Rp 416 juta.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Auditor BPK Ali Sadli tiba di kantor KPK Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, Kamis (24/8/2017). Ali Sadli diperiksa sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap pemberian predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) BPK untuk Kemendes PDTT. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (2/2/2018) Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Sadli mengaku memiliki deretan mobil mewah.

Satu diantara mobil mewah yang dimilikinya ialah Jeep Wrangler Rubicon tahun 2014 seharga Rp 416 juta.

Ali mengaku mobil tersebut dibeli dengan uang hasil honor perjalanan dinas.

"Oh itu cicilan. Semua dari perjalanan dinas saya. Rp 416 juta total dari uang perjalanan dinas," ucap Ali di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Ali menjelaskan dari 2010 hingga 2017 pendapatannya selama di BPK mencapai Rp2,2 miliar. Sementara itu, honor yang dia kumpulkan dari perjalanan dinas mencapai Rp400 juta.

Selain dari gaji pokok, Ali juga mengaku mendapatkan pendapatan sampingan berhubungan dengan pekerjaan, yakni dari honor serta perjalanan dinas.

Baca: KBRI Kuala Lumpur: Siswi Sekolah Indonesia Sudah Bebas dari Tahanan Imigrasi Malaysia

"Honor saya setahun ada 7 sampai 8 tim pak. Honor saya satu tim itu sebulan bisa Rp3-4 juta, Jadi, total setahun bisa Rp50-60 juta dari honor tim saja. Dan itu kan ada perjalanan dinas juga," kata Ali.

Ali menambahkan, dari penghasilannya via uang perjalanan dinas, dia mengklaim bisa menghemat sebanyak 60 persen. Karena dia lebih banyak di Jakarta daripada di daerah.

Diketahui Ali Sadli didakwa menerima gratifikasi berupa uang Rp10,5 miliar dan USD80 ribu. Uang tersebut ia terima dari sejumlah pihak.

Ali disebut menggunakan uang itu untuk melakukan pembelanjaan atau pembayaran atas pembelian tanah dan bangunan, serta kendaraan bermotor.

Jaksa menilai pembelian aset tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh Ali selama bekerja sebagai auditor BPK.

Dari penghasilan resmi yang diperoleh sejak 2014 sampai 2017, Ali tercatat hanya mengumpulkan Rp935 juta.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved