Rabu, 27 Mei 2026

Prediksi Indonesia Tahun 2030

Jubir PSI Kritisi Pernyataan Prabowo Subianto

Keputusan Partai Gerindra menggunakan informasi dari asing untuk di sampaikan di mimbar terbuka, secara tidak langsung mengikis kredibilitas

Tayang:
Editor: Rachmat Hidayat
ISTIMEWA
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ria Ernest 

Laporan wartawan tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.cOM, JAKARTA - Keputusan Partai Gerindra menggunakan informasi dari asing untuk di sampaikan di mimbar terbuka, secara tidak langsung mengikis kredibilitas.

Hal ini dikatakan oleh Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest, Rabu (21/3/2018).

Ernest menegaskan, setelah sebelumnya gagal dalam narasihutang, kali ini melalui Ketua Umum dan Wakil Ketua Umumnya, Gerindra mengalihkan wacananya pada informasi yang diperoleh dari negara asing.

Padahal, lanjut Ernest, Gerindra dikenal sering menyuarakan narasi anti-asing.

"Tidak masuk akal bila Gerindra mengakui validitas dan kredibilitas laporan negara asing tersebut. Alih-alih ingin membakar semangat kadernya, penggunaan informasi asing di muka mimbar ini justru dapat membuat publik bertanya-tanya tentang konsistensi Gerindra terhadap wacana 'anti-asing' yang sering mereka suarakan," sindir Ernest.

Apalagi sang Ketua Umum, Prabowo Subianto, lanjut Ernest lagi, yang ingin maju pada pilpres mendatang.

Gerindra, tegas Ernest, ingin menggunakan strategi politik,seolah-olah dihadapkan pada musuh yang sebenarnya tidak ada.

"Langkah Gerindra dengan narasi informasi yang diperoleh dari negara asing dinilai kurang tepat.

Karena musuh terbesar kita hari ini adalah politisi yang menghalalkan segala cara termasuk korupsi dan sentimen SARA," Ernest menegaskan kembali.

Sebelumnya akun facebook Partai Gerindra mengunggah pidato Prabowo Subianto mengenai prediksi masa depan Indonesia.

Dalam pidato tersebut Prabowo menyampikan bahwa berdasakan kajian yang dilakukan luar negeri Indonesia bisa bubar pada 2030.

Politisi Gerindra El Nino Husein Mohi menjelaskan maksud pernyatan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengenai Indonesia yang akan bubar pada 2030.

Menurutnya pernyataan Prabowo tersebut berdasarkan kajian yang ada di luar negeri.

‎"Jadi gini, Pak prabowo itu membaca berbagai tulisan orang-orang yang ada di luar negeri, pengamat intelektual yang ada, di online juga bisa kita lihat. Mereka punya tulisan-tulisan itu, ada yang bahasa inggris ada juga yang sudah diterjemahkan," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (21/3/2018) lalu.

Menurutnya, Prabowo menginginkan agar peristiwa tersebut tidak terjadi.

Indonesia tidak terpecah belah dan tercerai berai. Bahkan menurutnya Prabowo telah mempraktekan hal tersebut pada Pemilihan Presiden 2014 lalu.

‎"Waktu 2014 itu kita merasa kita menang, kita merasa dikalahkan tapi dia pada pelantikan pak Jokowi memberi hormat kepada pak Jokowi sebagai presiden, untuk apa? Untuk mengatakan seluruh pendukungnya sudah dia (Jokowi), sudah jadi presiden, ayo kita dukung kita kritik kalo dia salah, kalau dia benar kita katakan benar begitu," katanya.

Menurutnya lagi, berdasarkan kajian yang ada di luar negeri tersebut isu Suku, Agama, Ras, dan antar Golongan sudah mulai mengeras.

Oleh karena itu Prabowo terus mengingatkan agar bangsa Indonesia merekatkan persatuan.

"Jaga bangsa ini, indonesia mesti ada selama-lamanya sampai kiamat republik ini harus tetap merasa sama bersaudara, berbeda beda agama engga masalah, berbeda suku engga masalah. ‎inti pesannya tuh disitu, kita jaga persatuan kita, kita jaga ke bhinekaan tunggal ika an kita begitu, itu intinya," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved