5,6 Persen Penghuni Lapas Diisi Perempuan, Ditjen PAS: Kesadaran Hukum Perempuan Lebih Tinggi

Ia memastikan negara memfasilitasi perempuan-perempuan tersebut melalui program pembinaan.

5,6 Persen Penghuni Lapas Diisi Perempuan, Ditjen PAS: Kesadaran Hukum Perempuan Lebih Tinggi
Ria Anatasia/Tribunnews.com
Sekretaris Ditjen Permasyarakatan,Sri Puguh Budi Utami 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM, Sri Puguh Budi Utami memandang tingkat kesadaran masyarakat perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Kesimpulan Utami itu diambil berdasarkan jumlah narapidana atau tahanan perempuan, yakni 5,6 persen dari total warga pembinaan di lembaga permasyarakatan.

"Untuk perempuan, saya boleh menyebut hanya. Berbanding data dari 242 ribu napi, perempuan dan anak hanya 13.568. Keberhasilan dalam kesadaran hukum perempuan dibanding pria kalau lihat isi lapas/rutan, berarti kesadaran hukum lebih tinggi," ungkap Utami di Aston Rasuna, Jakarta Selatan, Kamis (3/5/2018).

Pada bulan Mei 2018, di 526 Lapas/Rutan dan Cab. Rutan diisi oleh 242.903 narapidana/tahanan dan 13.568 orang diantaranya perempuan dewasa dan anak.

Baca: Tidak Ajukan Banding, Setya Novanto: Saya Cooling Down Dulu

Ia menjelaskan sepertiga narapidana perempuan berada di 33 Lapas/Rutan yang dirancang khusus untuk menampung perempuan. Namun, sebagian besar perempuan masih ditempatkan di blok yang bersebelahan atau berada di dalam Lapas/Rutan yang difasilitasi untuk laki-laki.

Ia memastikan negara memfasilitasi perempuan-perempuan tersebut melalui program pembinaan.

"Sebelumnya lapas perempuan di lima kota, di 2017 33 provinsi ada lapas rutannya. Ini tanda negara hadir untuk membina perempuan pelanggar hukum," ujarnya.

Utami mengatakan Ditjen PAS akan berupaya meningkatkan kapasitas napi perempuan agar bisa berkarya yang nantinya menghasilkan nilai ekonomi.

Ia juga percaya perempuan memiliki peran signifikan dalam masyarakat, khususnya dalam membangun keluarga.

"Bagaimana perempuan ditolong kapasitasnya. Benar mereka sudah langgar hukum tapi harus mampu bangkitkan semangatnya. Mereka masih punya peran penting khususnya di keluarganya. Mereka masih bisa berkontribusi," katanya.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved