Breaking News:

Berita Parlemen

Budaya Lokal Harus Diperkuat Untuk Tangkal Serangan Globalisasi

Anggota Komisi X DPR RI mengatakan bahwa saat ini seluruh pihak sedang memberikan porsi besar kepada pendidikan berbasis kebudayaan, guna menangkal se

Editor: Content Writer
nur ichsan/warta kota

Anggota Komisi X DPR RI Anas Thahir mengatakan bahwa saat ini seluruh pihak sedang memberikan porsi besar kepada pendidikan berbasis kebudayaan. Hal ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, budaya lokal harus diperkuat demi menangkal serangan globalisasi yang semakin deras.

"Kita melihat semua pihak sekarang memang sedang berusaha keras ingin memperkuat budaya lokal, termasuk kurikulum kita yang bermuatan kebudayaan. Hari ini kita berdiskusi dengan teman-teman di Pemda Kalsel. Bagaimana agar budaya lokal kita perkuat sedemikian rupa sehingga kita mampu, menangkal dari serangan globalisasi yang hari ini makin deras," ungkapnya saat pertemuan Tim Kunjungan Kerja Komisi X DPR dengan Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor di Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Rabu (30/5/18).

Lebih lanjut Anas berpendapat, bahwa menurutnya, jika Kalsel menjadikan Program Khattam Al-Quran sebagai pendidikan berbasis budaya yang dapat menangkal adanya radikalisme dan terorisme, perlu dilakukan sosialisasi-sosialisasi lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Hal ini mengingat, saat ini adanya tuduhan bahwa justru ajaran agamalah yang merupakan sumber terorisme dan radikalisme. Meskipun menurutnya, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan.

"Saya ingin berdiskusi lebih lanjut, jika Kalsel menganggap dengan Pendidikan Al-Quran itu sudah cukup menangkal radikalisme, anarkisme, terorisme dan kekerasan. Tapi menurut saya, karena masih ada tuduhan bahwa justru ajaran agama yang jadi sumber terorisme, walaupun sebenarnya tidak ada agama manapun yang mengajarkan kekerasan. Agama apapun yang diajarkan adalah kedamaian, persoalannya justru disini, bagaimana pemerintah, pemda, dan pendidikan kita itu bisa melakukan sosialisasi sebesar-besarnya dan seluas-luasnya kepada masyarakat, bagaimana tentang tata cara beragama yang benar. Cara beralquran yang benar. Ini yang saya maksud diskusinya mestinya lebih panjang," paparnya.

Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Budaya ini memiliki tujuan memberikan penguatan character building dalam sisi kebudayaan dan sistem kurikulum di Indonesia. (*)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved