Rabu, 22 April 2026

Pilpres 2019

Pengamat: Pertemuan Puan-Prabowo untuk Bendung Terbentuknya Poros Ketiga

Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menilai rencana pertemuan Politikus PDI Perjuangan Puan Maharani dengan Prabowo untuk...

Taufik Ismail
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menilai rencana pertemuan Politikus PDI Perjuangan Puan Maharani dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk membendung terbentuknya poros ketiga.

Puan memang tidak menjelaskan secara rinci apa yang akan menjadi topik pembicaraan.

Hanya membahas situasi politik terkini dan ketawa ketiwi. Begitu jawaban diplomatis Puan Maharani.

Namun menurut Pangi pertemuan itu bisa dimaknai biasa atau istimewa.

Baca: Sikapi Aksi Pelemparan Batu, Kapolres Bekasi Inturksikan Jajarannya Bersiaga Amankan Jalur Mudik

Dikatakan pertemuan biasa karena Puan bukan sekali ini saja bertemu Prabowo.

“Tapi ini bisa jadi pertemuan istimewa jika pembahasan terkait Pilpres 2019. Saya membaca pertemuan Puan dengan Prabowo bisa saja sebagai konsolidasi agar tidak ada potensi poros ketiga,” kata Pangi, Jumat (8/6/2018).

Puan, kata Direktur Eksekutif Voxpol Center ini, dalam posisi menerima mandat dari PDI Perjuangan untuk menyampaikan pesan agar Prabowo mematikan langkah politik Partai Demokrat yang sedang menginisiasi terbentuknya embrio poros ketiga.

“Dan Pak Jokowi juga pasti tidak senang karena 50 persen plus 1 dalam teori demokrasi tidak tercapai,”kata Pangi.

Karena itu, Jokowi melalui Puan meminta Prabowo untuk terus “menjaga” beberapa partai yang berpotensi lompat pagar dan bergabung ke kelompok poros ketiga.

Pangi menyebut ada Partai Demokrat dan PAN di kelompok ini, meski jumlah suaranya secara nasional belum memenuhi syarat untuk mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden.

Prabowo diminta untuk “menjaga” PKS agar tetap berada di koalisi Gerindra dan PKB tetap berada di lingkaran Jokowi.

Bahkan sekalipun PKB bergabung dengan Gerindra, itu bukan masalah bagi Jokowi.

Yang terpenting dua partai itu tidak bergabung ke poros tengah.

“Prabowo harus mengunci PKS dan PKB agar tidak lompat pagar ke koalisinya Demokrat. Kalau di koalisi Jokowi aman, ada Golkar, PPP, Nasdem,” ujar dia.

Situasi inilah, menurut Pangi, yang menyulitkan poros ketiga terbentuk. Di samping belum tercukupinya syarat dukungan untuk pencalonan presiden dan wakil presiden, aktor untuk mengisi poros ketiga juga tidak terlihat, selain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Meski ada pula beberapa nama, seperti Anies Baswedan dan Rizal Ramli yang berdasarkan sejumlah survei memiliki elektabilitas tinggi, namun tetap akan sulit maju tanpa kendaraan partai politik. (*/Willy Widianto)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved