Breaking News:

11 Wanita Indonesia Korban Trafficking di China, Ini Opsi Pemulangannya

Salah satu syarat untuk mendeportasi mereka, kata Umar, pemerintah akan mencabut paspor dan visa mereka karena sejumlah permasalahan.

tribun batam/ikhsan
Ilustrasi korban trafficking 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG-Deportasi jadi salah satu pilihan dalam memulangkan ‎11 perempuan warga Indonesia yang jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau trafficking dan saat ini berada di China.

Opsi deportasi dalam memulangkan karena sejak awal, penyidik dari Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jabar melalui Mabes Polri menemukan sejumlah kendala dalam memulangkan korban.

Salah satunya, mayoritas korban statusnya saat ini sudah resmi menikah dengan pria Tiongkok.

‎"Ada opsi untuk mendeportasi korban karena itu cara paling mudah dan cepat. Mungkin deportasi jadi cara paling naif, rendah lah (deportasi kerap dilakukan pada orang-orang bermasalah di luar negeri) tapi kita enggak masalah, yang penting targetnya tercapai, korban pulang dan selamat," ujar Direktur Ditreskrimum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana di Lapangan Gasibu, Jalan Dipenogoro Bandung, Jumat (3/8/2018).

Salah satu syarat untuk mendeportasi mereka, kata Umar, pemerintah akan mencabut paspor dan visa mereka karena sejumlah permasalahan.

Yakni, pemalsuan usia. Korban kata Umar, mayoritas berusia di bawah umur. Berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak, batasan usia anak-anak di bawah 18 tahun.

Masalah kedua, korban saat ini posisinya berstatus istri resmi warga Tiongkok sehingga dianggap tidak ada permasalahan.

Ketiga, dalam pernikahan beda negara, salah satu syarat adalah rekomendasi dari kedutaan besar namun tidak ada pada korban. Ke empat, korban menggunakan visa dan paspor kunjungan wisata dan bekerja.

Semua pemalsuan dokumen dilakukan ketiga tersangka yang sudah ditangkap Ditreskrimum Polda Jabar belum lama ini.

"Dengan dicabut paspor dan visa karena bermasalah, para korban akan stateless (tanpa kewarganegaraan). Dengan begitu, Pemerintah Tiongkok harus memulangkan mereka lewat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tiongkok," ujar Umar.

Kasus perdagangan manusia dengan korban perempuan ini berlangsung sejak Desember 2017 hingga Juni 2018.

Pelaku teridentifikasi sebanyak empat orang. Pertama, Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin berperan sebagai perekrut, Yusuf Halim alias Aan sebagai perekrut dan warga Tiongkok, Guo Changshan sebagai perantara di Indonesia ke Tiongkok. Ketiganya saat ini ditahan di Mapolda Jabar.

"Satu orang lagi, warga Tiongkok lainnya, Then MUI Khiong masih buron. Dia sebagai perantara juga," kata Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Bandung, Kamis (26/7).

Korban berasal dari sejumlah daerah di Jabar‎. Lima orang dari Kabupaten Purwakarta sisanya dari Kabupaten Bandung, Kota Sukabumi dan sebagian Tangerang, Provinsi Banten. (Mega Nugraha)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved