Presiden Ajak Para Santri Pelihara Kerukunan dan Persatuan

Kepala Negara pun kembali mengingatkan bahwa aset terbesar bangsa Indonesia adalah kerukunan, persatuan, dan persaudaraan.

Presiden Ajak Para Santri Pelihara Kerukunan dan Persatuan
Biro Pers Setpres
Presiden Jokowi bersilaturahmi dengan para santri dan pengurus Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah. 

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Sebagai sebuah bangsa, Indonesia dianugerahi Allah beragam perbedaan, mulai dari perbedaan suku, agama, adat, tradisi, hingga bahasa daerah. Oleh karena itu, toleransi antarsuku, antaragama, dan antardaerah mutlak diperlukan bangsa Indonesia.

Saat bersilaturahmi dengan para santri dan pengurus Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo yang pada kesempatan ini didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, kembali mengajak semua pihak untuk saling menghormati dan saling menghargai dengan sesama.

“Sudah menjadi sunatullah bahwa bangsa ini memang beragam, berbeda-beda. Jangan sampai antaragama, antarsuku, antardaerah menjelekkan, mencela, tidak saling menghargai tidak saling menghormati,” kata Presiden, Sabtu (20/10/2018).

Baca: Momentum 4 Tahun Pemerintah Jokowi-JK, Ketum Golkar: Partai Nomor Urut 4 Menang di Pemilu

Kepala Negara pun kembali mengingatkan bahwa aset terbesar bangsa Indonesia adalah kerukunan, persatuan, dan persaudaraan.

Menurutnya, bangsa Indonesia akan maju dan bisa menjadi negara besar dan kuat jika kita bisa menjaga persatuan.

Ia pun memberikan contoh pencapaian kontingen Indonesia di Asian Games dan Asian Para Games 2018 yang baru saja selesai digelar.

Walaupun pada awalnya banyak yang pesimistis bahwa Indonesia tidak akan bisa berprestasi, tapi berkat kerja keras semua pihak, Indonesia bisa bertengger di peringkat keempat pada Asian Games dan peringkat kelima pada Asian Para Games.

“Coba kita lihat waktu badminton ada yang lihat agamanya apa, sukunya apa? Enggak ada, hanya untuk satu yaitu Merah Putih, Indonesia Raya, negara kita tercinta. Waktu silat enggak ada yang menanyakan itu pesilat dari daerah mana, dari suku mana? Enggak ada. Inilah yang dibutuhkan negara ini, sebuah persatuan yang kuat, sebuah kerukunan yang kuat,” ujarnya.

Tak hanya itu, pada kesempatan ini Presiden juga mengutarakan kekhawatirannya dengan bertebarannya kabar bohong, hoaks, maupun fitnah di media sosial yang marak menjelang pemilihan umum (Pemilu), pemilihan bupati atau walikota, pemilihan gubernur, hingga pemilihan presiden.

“Yang namanya di media sosial itu bertebaran kabar bohong, hoaks, fitnah, saling mencela, saling menjelekkan, itu bukan tata karma Indonesia. Itu bukan etika Indonesia, itu bukan nilai-nilai Islami kita,” lanjutnya.

Halaman
12
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved