Breaking News:

Pesawat Lion Air Jatuh

Sejumlah Pengamat Penerbangan Asing Berspekulasi Soal Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP

Dalam sepanjang sejarah penerbangan, Indonesia dianggap memiliki catatan keselamatan penerbangan yang cukup buruk

Capture Kompas TV
Black box Lion Air PK-LQP berhasil di angkat ke permukaan pada Kamis (1/11/2018) sekitar pukul 10.00 WIB oleh dua tim penyelam. 

TRIBUNNEWS.COM, BRISBANE - Setelah terjadinya kecelakaan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin pagi (29/10/2018), para aviator langsung memusatkan perhatian mereka ke Indonesia.

Dalam sepanjang sejarah penerbangan, Indonesia dianggap memiliki catatan keselamatan penerbangan yang cukup buruk jika dibandingkan dengan negara lainnya.

Dikutip dari laman news.com.au, Kamis (1/11/2018),terkait kasus kecelakaan udara tersebut, data dari Flightradar24 menunjukkan bahwa pesawat Lion Air PK-LQP tersebut mencoba untuk terbang naik setelah lepas landas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB, namun pada akhirnya menyerah dan terjun dari ketinggian 1480 meter hanya dalam waktu 21 detik.

Sejak saat itu, informasi pun bermunculan bahwa Lion Air PK-LQP tersebut sebelumnya telah mengalami masalah serupa selama penerbangan rute Jakarta-Bali, hanya kurang dari 24 jam sebelum tragedi tersebut terjadi.

Hal itu memungkinkan dugaan terjadinya kegagalan mekanis, seperti spekulasi yang berkembang saat ini.

Para penumpang pesawat yang tiba di Denpasar, Bali pada hari Minggu lalu itu mengatakan bahwa pesawat tersebut terbang naik kemudian turun seperti roller coaster, sesaat setelah lepas landas.

Peristiwa itu pun membuat mereka muntah dan panik, bahkan banyak pula yang mengeluhkan masalah pencahayaan di kabin pesawat dalam akun media sosial mereka.

Baca: Tim NTSB Amerika dan Boeing Lakukan Investigasi Pesawat Lion Air PK-LQP

Menanggapi kasus yang kini tengah menimpa Lion Air, Spesialis penerbangan Philip Butterworth-Hayes menyatakan hal yang tidak baisa bagi pesawat terbang untuk mengalami kesulitan dalam mencapai ketinggian ketika lepas landas, karena biasanya itu dikendalikan oleh sistem otomatis pesawat.

"Ini tidak sesuai dengan profil penerbangan otomatis, kecuali (pilot) pesawat itu berusaha memperbaiki sendiri permasalahan tersebut karena sejumlah alasan," kata Philip.

Ia menambahkan, data dalam Flightradar24 menunjukkan profil penerbangan vertikal yang sangat tidak stabil.

Halaman
12
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved