Kamis, 9 April 2026

Pilpres 2019

Jubir Prabowo Sependapat dengan Penilaian Pengamat Asing Terhadap Cara Jokowi Bubarkan Ormas

Menurutnya apa yang disampaikan pengamat asing tersebut secara tidak langsung membenarkan penilaian kubu Prabowo-Sandi

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hendra Gunawan
Istimewa
Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Juru Bicara Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade sependapat dengan penilaian pengamat asing bahwa Jokowi cenderung otoriter dalam membubarkan Ormas.

Bahkan menurut Andre jauh sebelum pengamatap asing tersebut memberikan penilaian, pihaknya sudah mengingatkan bahwa cara Jokowi menangani ormas Hizbut Tahrir Indonesia otoriter.

"Kan sudah dari awal kita mengingatkan Jokowi bahwa cara cara beliau membubarkan Ormas seperti itu tidak tepat. Bukan hanya pengamat asing jauh sebelum pengamat asing tersebut menyampaikan kita sudah mengingatkan. cara cara membubarkan oramas itu otoriter kemunduran terhadap demokrasi, dari awal kita sampaikan," katanya saat dihubungi Kamis, (15/11/2018).

Menurutnya apa yang disampaikan pengamat asing tersebut secara tidak langsung membenarkan penilaian kubu Prabowo-Sandi terhadap cara Jokowi dalam menangani kelompok atau elemen yang bertentangan dengan pemerintah.

"Jadi apa yang disampaikan pengamat asing tersebut menjustifikasi pendapat kita soal Perpuu Ormas lalu dibentuk. bukan hanya itu aja saat pak Sri bintang ditangkap dan lainnya ditangkap tanpa proses pengadilan yang jelas sampai sekarang itu juga salah satu contohnya," pungkas Andre.

Belakangan ini, ramai sejumlah publikasi kajian dan artikel yang ditulis pengamat asing yang menyebut Presiden Jokowi kini jadi seorang yang otoriter.

Hal itu disampaikan oleh pengamat asing, Matthew Busch dalam artikelnya yang berjudul Jokowi's Panicky Politics, yang ditulis di laman Majalah Public Affairs.

“Sekarang para kritikus dan para pendukung Jokowi sama-sama bertanya, seberapa aman sebenarnya (demokrasi) Indonesia dari kemunduran menjadi negara otoriter,” tulisnya.

Dilansir dari laman hersubenoarief.com, para pengamat asing menunjuk tindakan Jokowi membubarkan HTI, pembubaran berbagai aksi gerakan #2019GantiPresiden, penggunaan instrumen hukum untuk menekan lawan politik, dan pelibatan kembali militer dalam politik sebagai indikator perubahan arah dan gaya pemerintahan Jokowi.

“Jokowi terbukti menjadi pemimpin yang tidak sabar dan reaktif. Dia dengan mudah tersentak oleh ancaman politik, dan seperti banyak politisi Indonesia, tampaknya nyaman menggunakan alat-alat tidak liberal untuk mempertahankan posisi politiknya,” tulis Eve Warburton dan Edward Aspinall dalam artikel berjudul “Indonesian democracy: from stagnation to regression? di laman The Strategist yang diterbitkan Australian Strategic Policy Institut (ASPI).

Tak hanya pendapat kedua pengamat itu, penulis juga menyertakan analisis dari pengamat lainnya, yang mana isinya hampir seragam.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved