Pesawat Lion Air Jatuh

KNKT: Lion Air PK-LQP Terbang dengan Masalah dari Denpasar Menuju Jakarta Selama 1,5 Jam

Pilot kemudian menemukan bahwa pesawat mengalami trimming aircraft nose down (AND) secara otomatis.

KNKT: Lion Air PK-LQP Terbang dengan Masalah dari Denpasar Menuju Jakarta Selama 1,5 Jam
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Flight Data Recorder (FDR) yang merupakan bagian dari Black Box Pesawat Lion Air PK-LQP ditunjukan di dalam Kapal Baruna Jaya 1, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/11/2018). Flight Data Recorder (FDR) Pesawat Lion Air PK-LQP ditemukan oleh penyelam dari Batalion Intai Amfibi TNI AL. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo mengungkapkan pesawat Lion Air PK-LQP terbang dengan masalah selama 1,5 jam dari Denpasar ke Jakarta pada 28 Oktober 2018.

Penerbangan itu berlangsung tepat sebelum pesawat itu jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 pagi.

Nurcahyo pun menjelaskan kronologisnya secara lengkap dalam konferensi pers laporan awal investigasi kecelakaan pesawat Lion Air LK-LQP di Kantor KNKT, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2018).

“Saat pre-flight Pilot in Command (PIC) melakukan diskusi dengan teknisi terkait tindakan perawatan pesawat udara termasuk adanya informasi bahwa sensor Angle of Attack (AoA) yang diganti dan telah diuji,” jelasnya.

Nurcahyo mengatakan Digital Flight Data Recorder (DFDR) yang telah dihimpun dari blackbox mencatat ada stick shaker aktif yang terjadi sesaat sebelum pesawat lepas landas pada 22.20 WITA dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan terus terjadi selama penerbangan yang berlangsung sekitar 1 jam 36 menit itu.

Stick shaker itu jika dibiarkan berpotensi membuat pesawat kehilangan daya angkat.

Kemudian setelah pesawat berada di ketinggian 400 kaki pilot menyadari adanya peringatan IAS (Indicator as Speed) DISAGREE pada Primary Flight Display (PFD), lalu pilot mengalihkan kendali pada co-pilot untuk membandingkan peringatan di PFD dan ‘instrument standby’.

“Kemudian ditemukan PFD kiri bermasalah,” imbuhnya.

Pilot kemudian menemukan bahwa pesawat mengalami trimming aircraft nose down (AND) secara otomatis.

“Pilot kemudian mengubah STAB TRIM ke CUT OUT sehingga pilot mengendalikan pesawat secara trim manual dan tanpa auto-pilot sampai mendarat,” ceritanya.

Halaman
12
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved