Berita Parlemen

Komisi IX Dukung Riset Pengembangan Tanaman Obat

Indonesia kaya akan aneka ragam spesies tanaman obat yang tersebar di berbagai daerah. Kendati demikian, 95 persen bahan baku obat di Indonesia masih

Komisi IX Dukung Riset Pengembangan Tanaman Obat
dpr.go.id
Anggota Komisi IX DPR RI Syamsul Bachri (dua dari kiri) disela-sela kunjungan kerja Komisi XI ke Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kementerian Kesehatan di Tawangmangu, Jawa Tengah, Sabtu (08/12/2018). 

Indonesia kaya akan aneka ragam spesies tanaman obat yang tersebar di berbagai daerah. Kendati demikian, 95 persen bahan baku obat di Indonesia masih impor. Karena itu,  Komisi IX DPR RI mendukung pengembangan riset tanaman obat dan obat tradisional menuju kemandirian bahan baku obat.

Demikian diungkapkan Anggota Komisi IX DPR RI Syamsul Bachri disela-sela kunjungan kerja Komisi XI ke Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kementerian Kesehatan  di Tawangmangu,  Jawa Tengah,  Sabtu (08/12/2018).

"Komisi IX mendukung pengembangan dan pemeliharaan terutama obat tradisional yang sudah terbukti selama ratusan tahun secara turun temurun berkhasiat dan membantu kesehatan masyarakat," ungkap Syamsul.

Politisi dari F-Golkar itu menuturkan,  selama ini industri farmasi nasional  masih sangat tergantung pada bahan baku obat impor.  Padahal,  bahan baku obat melimpah di Indonesia. Karenanya, ia berharap industri farmasi Indonesia mampu bertansformasi menjadi industri farmasi yang berbasis riset dan pengembangan, sehingga nantinya dapat bersaing di pasar obat. 

Dirinya juga mendorong Kementerian Kesehatan RI untuk aktif mensosialisasikan potensi dan manfaat tanaman obat tradisional. Menurutnya,  masyarakat dapat memanfaatkan obat-obat tradisional seperti tanaman jamu sebagai langkah preventif untuk mencegah timbulnya suatu penyakit. 

"Saya kira ini perlu disosialisasikan secara masif ke tengah-tengah masyarakat bahwa tanaman obat merupakan salah satu alternatif untuk pemeliharaan kesehatan," katanya. 

Ditempat yang sama,  Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Siswanto mengatakan, kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan di hulu dan di hilir. Bersinergi dengan stakeholder terkait, saat ini B2P2TOOT melaksanakan riset dan pengembangan bahan baku obat, diantaranya artemisinin untuk produksi obat malaria DHP, silybum marianum sebagai bahan baku obat hepatitis, dan budidaya daun johar (Cassia Siamea) sebagai obat malaria.

Ia mengatakan, hilirisasi riset dilakukan bersama dengan industri dengan orientasi pada pemanfaatan tanaman obat dan jamu oleh masyarakat. Pada tahap ini, hasil riset dipersiapkan untuk komersialisasi produk jamu dalam skala besar. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan anggaran maupun regulasi untuk memanfaatkan hasil riset jamu agar dapat dimanfaatkan menuju masyarakat sehat dan sejahtera. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved