Mantan Ketua KPK Sebut Amandemen UUD 1945 Manipulatif dan Kamuflase

Mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki menyebut amandemen UUD 1945 pasca reformasi manipulatif dan kamuflase.

Mantan Ketua KPK Sebut Amandemen UUD 1945 Manipulatif dan Kamuflase
Tribunnews.com/ Chaerul Umam
Sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) menyampaikan aspirasi untuk kembali ke UUD 1945 yang asli, di Gedung Nusantara IV DP/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (6/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki menyebut amandemen UUD 1945 pasca reformasi manipulatif dan kamuflase.

Hal itu disampaikannya kepada Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam acara "Penyampaian Aspirasi: Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945", Rabu (6/2/2019).

"Tujuannya cuma satu, untuk mengelabui agar para anak bangsa yang telah pernah bersumpah, setia pada Pancasila dan UUD 1945 seperti aparatur negara, aparatur pemerintah, para prajurit TNI yang memegang teguh sumpah prajurit, anggota Polri yang memegang Tri Brata tidak menentang," ujar Ruki di Gedung Nusantara IV DPR MPR RI, Senayan, Jakarta.

"Padahal perubahan UUD 1945 manipulatif dan kamuflase, penuh dengan permainan kata," sambungnya.

Baca: Polisi Periksa 3 Saksi dan Sita CCTV Terkait Kasus Penganiayaan Penyelidik KPK di Hotel Borobudur

Lebih lanjut, Ruki mengatakan semenjak tahun 2002 UUD 1945 sudah tidak lagi menjadi dasar falsafah negara dan tidak lagi menjadi sumber kebijakan pemerintahan serta pengelola negara.

Baca: Lama Bungkam Soal Tudingan Hamil, Tiara Savitri Anak Mulan Jameela Buat Pengakuan: Buset Dah

Bahkan dia menilai Pancasila yang sudah dinyatakan sebagai salah satu dalam empat pilar kebangsaan setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif, sudah tidak berfungsi.

"Bahkan, kalau mau jujur, sesungguhnya tidak ada fungsinya," tegasnya.

Ruki menambahkan Indonesia sudah terlalu lama menjadi bangsa munafik.

Baca: Siapkan Game Berkualitas, Emago Usung Tren Teknologi Cloud Gaming

Menurutnya, setiap rezim mengaku pancasilais, namun perilakunya jauh dari Pancasila.

"Apabila melekat pada dirinya kekuasaan, apalagi kekuasaan itu besar, menjadi mudah bagi mereka totaliter, semena-mena dan menghalakan segala cara," tutup Ruki.

Baca: Sederet Fakta Kasus Pembunuhan Anak Punk di Pamulang: Lahan Mengamen, Diculik, dan Perencanaan

Untuk diketahui, acara tersebut dipelopori Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) yang terdiri dari Purnawirawan Perwira Tinggi TNI-Polri, cendekiawan, aktivis dan mahasiswa.

Penulis: chaerul umam
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved