Imparsial: TNI Harus Perkuat Pertahanan Siber, Bukan Masuk ke Lembaga Sipil

Banyaknya perwira menengah aktif dan perwira tinggi aktif yang tidak memiliki jabatan struktural di TNI menjadi sorotan.

Imparsial: TNI Harus Perkuat Pertahanan Siber, Bukan Masuk ke Lembaga Sipil
Tribunnews.com/ Gita Irawan
Direktur Imparsial Al Araf saat diskusi publik bertema Quo Vadis Reformasi, Kembalinya Militer Dalam Urusan Sipil di kantor Komnas HAM RI, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (1/3/2019). 

"Karena sejatinya sistem teknologi komando dan pengendalian semuanya berdasar di situ. Kalau nonton film Die Hard itu kan tidak perlu pakai perang fisik, tapi dengan mengendalikan sistem komando dan kendali bisa hancur sebuah negara. Itu ilustrasi yang baik sebetulnya," jelas Al Araf.

Sebelumnya ia menjelaskan, ketika proses gelombang demokratisasi terjadi di dunia, semua negara melakukan penataan atau reorganisasi militernya.

Upaya itu juga dilakukan oleh Indonesia yang dikenal dengan reformasi TNI, penghapusan fungsi sosial politiknya, dan semua militer yang ada di DPR pada saat orde baru kembali ke institusi TNI.

Baca: SBY Tunjuk Pakde Karwo Jadi Komandan Pemenangan Demokrat untuk 21 Provinsi di Indonesia Timur

"Itulah yang kemudian di dalam reformasi TNI ada tuntutan tentang reformasi TNI terkait dengan pencabutan Dwi Fungsi ABRI, restrukturiasi Komando Teritorial, reformasi peradilan militer, larangan TNI berbisnis dan berpolitik, serta upaya membangun profesionalisme militer itu sendiri. Itu bagian dari tuntutan reformasi dan reformasi TNI," kata Al Araf.

Menurutnya, pergeseran generasi baru perang mempengaruhi banyak negara melakukan reorganisasi militernya dalam konteks perubahan lingkungan strategis di dunia pertahanan.

Menurutnya, hari ini, dinamika generasi perang sudah dalam tahap generasi perang keempat.

Ia menjelaskan, generasi perang pertama sampai ketiga berdasar pada asumsi yang mengedepankan jumlah personel yang banyak.

"Tapi generasi perang keempat dengan dinamika perang asimetris, semua negara dasar utama perangnya adalah melihat pada pembangunan teknologi pertahanan yang modern ditambah kualitas tentara profesional," jelas Al Araf.

Ia melanjutkan, atas dasar itu, reorganisasi militer dengan melihat generasi perang keempat dilakukan banyak negara dengan dua tahap.

Pertama, memperkuat struktur dengan dinamika asimetris dan kedua mengurangi struktur yang tidak efektif untuk generasi perang keempat.

Halaman
123
Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved