Imparsial: TNI Harus Perkuat Pertahanan Siber, Bukan Masuk ke Lembaga Sipil

Banyaknya perwira menengah aktif dan perwira tinggi aktif yang tidak memiliki jabatan struktural di TNI menjadi sorotan.

Imparsial: TNI Harus Perkuat Pertahanan Siber, Bukan Masuk ke Lembaga Sipil
Tribunnews.com/ Gita Irawan
Direktur Imparsial Al Araf saat diskusi publik bertema Quo Vadis Reformasi, Kembalinya Militer Dalam Urusan Sipil di kantor Komnas HAM RI, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (1/3/2019). 

"Dampaknya, di banyak negara misalnya Israel, Australia, Amerika Serikat membangun pertahanan siber yang kuat dengan orientasi ke masa depan. Bahkan Perdana Menteri Israel menyebutkan, pertahanan siber mereka lebih kuat daripada Mossad yang mereka miliki," kata AlAraf.

Menurutnya, negara-negara di dunia yang melakukan upaya itu melihat persoalan dasar reorganisasi militernya ke arah membangun pertahanan siber yang kuat untuk ancaman dari luar.

"Kalau hoax Ratna Sarumpaet dan sebaginya tidak perlu ditangani juga sama militer. Tapi yang sifatnya lebih ke ancaman dari luar," kata Al Araf.

Di samping itu, negara-negara yang berorientasi ke generasi perang keempat juga melakukan pengurangan struktur yang tidak efektif.

Ia mencontohkan, angkatan bersenjata di Belanda mengurangi satuan divisi tank Leopard.

Sedangkan, di Amerika Serikat menurutnya telah melakukan pengurangan jumlah kekuatan Angkatan Darat sebanyak 120 ribu pasukan secara bertahap sejak 2012 sampai 2018.

"Di Tiongkok jumlah kekuatan Angkatan Darat dikurangi dari 300.000 prajurit sampai 200.000 prajurit," kata Al Araf.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved