Breaking News:

Penyidik KPK Diteror

Respons Novel Baswedan Sikapi Kasusnya Dibawa ke Dewan HAM PBB

Novel menilai, pelaporan yang dilakukan Amnesty International Indonesia tersebut merupakan respon atas buntunya upaya mendapatkan keadilan di Indonesi

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Penyidik KPK Novel Baswedan serta sejumlah aktivis antikorupsi dan wadah pegawai (WP) KPK memperingati 500 hari penyerangan air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/11/2018). Peringatan digelar untuk mendorong pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyelesaikan kasus-kasus penyerangan terhadap para aktivis. WP KPK juga mengaitkan kasus tersebut dengan tewasnya aktivis HAM, Munir Said Thalib pada 2004 lalu. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengatakan langkah Amnesty International Indonesia yang telah membawa kasusnya dalam pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada Februari 2019 lalu menambah keyakinannya bahwa dirinya tidak sendiri.

Novel bBswedan menilai, pelaporan yang dilakukan Amnesty International Indonesia tersebut merupakan respon atas buntunya upaya mendapatkan keadilan di Indonesia.

Baca: Putri Ayuningtyas Anggap Penunjukkannya Jadi Moderator Debat Pilpres 2019 Sebagai Amanah Spesial

Hal itu disampaikan Novel Baswedan lewat pesan Whats App kepada Tribunnews.com, Selasa (12/3/2019).

"Pelaporan ke (Dewan HAM PBB) Jenewa adalah respon atas buntunya upaya mendapatkan keadilan di negeri ini," kata Novel.

Ia menilai tidak ada kejelasan pengungkapan pelaku penyerangan terhadap dirinya.

Baca: Kemendikbud Siapkan Perekrutan Antisipasi Puncak Pensiun Guru Pada 2022

Novel juga menilai pemerintah masih tetap bersikap diam seolah membiarkan atau tidak peduli terhadap kasus tersebut sampai dengan 700 hari setelah penyiraman air keras terhadapnya yang jatuh pada Selasa (12/3/2019).

"Tim gabungan yang dibentuk Kapolri belum terlihat hasil kerjanya dan tidak mau menunjukkan kesungguhannya mengungkap semua serangan terhadap insan KPK lainnya," kata Novel.

Karena itu, ia tetap mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk mau membuka jalan pengungkapan dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang independen.

Baca: Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Novel Baswedan Dibawa ke Pertemuan Dewan HAM PBB

"Dan tidak tersandera dengan kepentingan politik serta hanya mengedepankan kepentingan keadilan dan kebenaran di atas segala kepentingan apapun," kata Novel.

Untuk itu ia berharap, Jokowi dapat lebih peduli lagi terhadap kasus serangan terhadapnya mengingat penyerangan tersebut dinilainya sebagai serangan terhadap upaya pemberantasan korupsi.

"Semoga Presiden (Joko Widodo) bersikap dengan sebagaimana mestinya untuk peduli dengan masalah serangan terhadap saya ini, dan serangan terhasap insan KPK lainnya yang harus dilihat sebagai serangan terhadap upaya pemberantasan korupsi," kata Novel.

Terkait perkembangan kesehatan matanya, Novel mengatakan dirinya baru saja pulang dari Singapura melakukan pemeriksaan rutin.

"Saya baru pulang dari kontrol ke Singapura. Hasilnya memang mata kiri saya yang dioperasi semakin baik, dan untuk mata kanan stabil. Alhamdulillah," kata Novel.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved