Ini Keluhan Sekolah dan Siswa Terkait Pelaksanaan Ujian Nasional

keluhan kedua mengenai dekatnya waktu pelaksanaan antara Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dengan UNBK.

Ini Keluhan Sekolah dan Siswa Terkait Pelaksanaan Ujian Nasional
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Peserta ujian mengerjakan soal Bahasa Indonesia pada pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/MA/SMAK hari pertama di SMA Negeri 5, Jalan Belitung, Kota Bandung, Senin (1/4/2019). UNBK 2019 tingkat SMA/MA/SMAK berlangsung selama 4 hari, yakni 1 April, 2 April, 4 April, dan 8 April 2019. Pelaksanaan UNBK di SMAN 5 Bandung diikuti 367 peserta yang dibagi dalam dua sesi dengan menggunakan lima ruangan. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima sejumlah keluhan pada hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang diselenggarakan serentak pada Senin (1/4/2019).

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan keluhan pertama terkait sarana dan prasarana UNBK di berbagai sekolah di daerah yang minim dan pembiayaan UNBK yang sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.

Adapun, keluhan kedua mengenai dekatnya waktu pelaksanaan antara Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dengan UNBK.

"Kekurangan komputer yang akan digunakan untuk UNBK di jenjang SMK dan SMA membuat sekolah harus pontang-panting mencari pinjaman komputer ke sekolah-sekolah sekitar yang kadang jaraknya berbeda kecamatan," kata Retno, dalam keterangannya, Selasa (2/4/2019).

Baca: Bos Indomie Ketemu Jennie BLACKPINK di Pesta CHANEL, BLINK Minta Keduanya Kolaborasi

Dia menjelaskan, ada ketentuan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di daerah yang dikuatkan dengan edaran, dimana UNBK tahun 2019 diterapkan resource sharing untuk mengatasi kekurangan komputer di sekolah.

Namun, kata dia, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan/UPT tidak terlibat dalam implementasinya, justru sekolah yang harus kerja keras mencari pinjaman komputer.

"Panitia UNBK di sekolah selain pusing harus mencari pinjaman kekurangan komputer, juga dipusingkan dengan pembiayaan akibat dari peminjaman tersebut yang sepenuhnya dibebankan kepada sekolah," kata dia.

Untuk pembiayaan peminjaman komputer, kata dia, biaya angkut peminjaman dan mengembalikan kembali misalnya bisa mencapai Rp 1.500.000,- (satu juta limaratus ribu rupiah), namun tidak bisa dibayarkan dengan menggunakan dana BOS (Bantuan operasional sekolah).

Selain itu, berdekatannya waktu pelaksanaan antara USBN dan UNBK dikeluhkan guru dan siswa dari beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, Lombok, Bima, Medan, Yogyakarta dan Bekasi.

"Bagi para siswa, waktu yang sangat berdekatan mengakibatkan mereka tidak memiliki jeda waktu minggu tenang. Mereka merasa seperti diburu waktu, tidak sempat istirahat dan refreshing untuk mempersiapkan mental," kata dia.

Untuk diketahui, USBN berlangsung tanggal 23-30 Maret 2019, sementara UNBK berlangsung 1, 2, 4, dan 8 April 2019.

Jumlah peserta UN tahun ini meningkat sekitar 300 ribu orang menjadi 8,3 juta peserta didik dengan 103 satuan pendidikan. Selain itu, persentase peserta yang mengikuti UNBK sebanyak 91 persen dan sisanya sembilan persen menjalankan Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNPK). Adapun jumlah peserta UNBK SMA/MA sekitar 2 juta peserta didik dengan rincian 1,9 juta menjalankan ujian dengan UNBK dan sebanyak 44 ribu menjalankan ujian dengan sistem UNKP.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved