Minta TNI Kooperatif, Komnas HAM Singgung Sejumlah Jenderal TNI yang Pernah Memenuhi Panggilan

Komnas HAM akan memanggil anggota TNI yang terkait dengan kasus dugaan pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua.

Minta TNI Kooperatif, Komnas HAM Singgung Sejumlah Jenderal TNI yang Pernah Memenuhi Panggilan
Tribunnews.com/ Gita Irawan
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam usai konferensi pers terkait kasus dugaan pelanggaran HAM Berat Paniai Papua pada Jumat (5/4/2019) di Kantor Komnas HAM RI, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (5/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sekaligus Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Peristiwa Paniai, Choirul Anam, mengatakan pihaknya akan memanggil anggota TNI yang terkait dengan kasus dugaan pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua, pada 7 dan 8 Desember 2014.

Choirul Anam mengatakan, Tim Ad Hoc Kasus Dugaan Pelanggaran HAM Berat Paniai Komnas HAM sebelumnya telah berupaya untuk melakukan audiensi dengan pihak TNI terkait hal tersebut.

Namun, audiensi tersebut kemudian dialihkan kepada tim di Menkopolhukam.

Baca: Ulang Tahun, Gavin Kwan Adsit Dapat Kado Spesial dari Wanita Cantik, Pacar Baru?

Choirul Anam menilai, hal tersebut merupakan sinyal bahwa TNI tidak kooperatif dalam penyelesaian kasus peristiwa Paniai.

"Mekanisme yang diambil tim kemarin memang fokusnya masih di polisi, di korban, di TNI-nya memang minta audiensi tapi dialihkan kepada Menkopolhukam. Sehingga itu tidak tepat sasaran, karena yang kita minta rentang komando bukan komando politik. Itu yang menurut kami salah satu sinyal tidak koperatif," kata Choirul Anam di Kantor Komnas HAM pada Jumat (5/4/2019).

Ia pun menyinggung nama-nama Jenderal TNI yang bersedia hadir ketika dipanggil untuk memberikan klarifikasi dalam kasus-kasus dugaan pelangharan HAM yang Berat.

Baca: Fakta Terkini Kasus Mayat dalam Koper, Pembunuhan Diduga di Kediri hingga Korban Sempat Melawan

"Dalam sejarah Komnas HAM ini yang pernah datang karena dipanggil Laksamana Sudomo, Jenderal LB Murdani, Jenderal Tri Sutrisno juga pernah. Pernah dipanggil dan datang. Mayor Jenderal A juga pernah datang, saya tidak sebutkan karena kasusnya masih jalan. Jadi beberapa jenderal juga pernah dipanggil dan datang. Sehinngga pengalaman kooperatif ini menjadi penting di kasus Paniai," kata Choirul Anam.

Sebelumnya, pada tanggal 7 dan 8 Desember 2014 empat anak meninggal dunia dan sebelas orang mengalami luka tembak maupun luka benda tumpul di Kabupaten Paniai, Papua.

Baca: Saluran Pencernaan Bagian Bawah Romahurmuziy Alami Infeksi dan Pelebaran Pembuluh Darah

Peristiwa tersebut terjadi mulai sekitar pukul 20.00 WIT, di Pondok Natal yang berada di KM 4 Jalan Poros Madi-Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai.

Saat itu terjadi kekerasan terhadap beberapa anak yang dilakukan orang tidak dikenal dengan korban bernama Yulianus Yeimo.

Pada pagi hari tanggal 8 Desember 2014, terjadi aksi pemalangan di jalan utama Madi-Enarotali KM 4 yang dilakukan warga untuk menuntut pelaku kekerasan ditangkap.

Baca: RS Polri: Romahurmuziy Alami Pendarahan Saat Buang Air Besar

Aksi warga berlanjut ke Lapangan Karel Gobay dengan melakukan Waita atau tarian adat di tengah lapangan disertai dengan pelemparan batu ke arah kantor Koramil Paniai Timur dan berakhir dengan tindakan represif aparat.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved