Polri Imbau Masyarakat Indonesia Tenang dan Percaya pada Kepolisian Pasca Bom Sri Lanka

Alasannya, kata dia, Densus 88 Antiteror telah memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mengantisipasi aksi teroris di Tanah Air.

Polri Imbau Masyarakat Indonesia Tenang dan Percaya pada Kepolisian Pasca Bom Sri Lanka
Dynamite News
Minggu Paskah, Ledakan Bom Terjadi di Tiga Gereja dan Tiga Hotel di Sri Lanka 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mabes Polri mengimbau agar seluruh masyarakat Indonesia tetap tenang menghadapi ancaman terorisme pasca serangan bom di Sri Lanka yang menewaskan sekitar 290 orang. 

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo meminta masyarakat untuk turut mempercayakan masalah pengamanan Indonesia terhadap terorisme kepada kepolisian. Terutama kepada Densus 88 Antiteror

Alasannya, kata dia, Densus 88 Antiteror telah memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mengantisipasi aksi teroris di Tanah Air. 

"Masyarakat diharap untuk tenang dan percayakan kepada kepolisian yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun untuk melakukan antisipasi dan penegakkan hukum terhadap kelompok teroris yang ada di Indonesia," ujar Dedi, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Ia menjelaskan jika pihaknya telah melakukan monitoring dan me-mapping sleeping-sleeping sel teroris di Indonesia. 

Densus 88 Antiteror dan Satgas Antiteror di polda-polda, lanjut Dedi, telah mengantisipasi ancaman tersebut, terutama pasca penangkapan teroris di Sibolga. 

Baca: Bawaslu soal Jurdil2019 Diblokir Kominfo: Menyalahi Prinsip Netralitas

"Pasca kejadian teroris di Sri Lanka, Kepolisian RI jauh sebelum kejadian itu atau pasca di Sibolga, sudah melakukan mapping, profiling dan identifikasi terhadap sleeping-sleeping sel yang ada di Indonesia," kata dia. 

Lebih lanjut, jenderal bintang satu menuturkan kepolisian telah memperkuat monitoring teroris pasca kejadian di Sibolga. 

"Penguatan terhadap monitoring terus dilakukan baik dari seluruh Satgas Antiteroris dan radikalisme di polda-polda dengan Densus 88, dan stakeholder terkait, terus melakukan monitoring sleeping cell maupun di beberapa wilayah," pungkasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved