Data Kominfo Tunjukkan Jumlah Konten Berita Hoax Meningkat Tajam Sejak Pertengahan Tahun Lalu

satu di antara penyebab cepatnya beredar berita hoax adalah watak umum masyarakat Indonesia yang ingin menjadi orang yang pertama tahu

Data Kominfo Tunjukkan Jumlah Konten Berita Hoax Meningkat Tajam Sejak Pertengahan Tahun Lalu
HandOut/Istimewa
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam dialog bertajuk “Menyatukan Perbedaan, Membangun Negeri” di Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu (24/4/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, BUKITTINGGIMenteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara membeberkan selama kurun waktu dari pertengahan tahun 2018 hingga saat ini, jumlah konten berita hoax yang beredar di media sosial meningkat tajam.

Pada bulan Agustus 2018, pihaknya mengidentifikasi hanya terdapat 25 berita hoax.

Jumlah ini melonjak tajam ketika memasuki tahun politik, yaitu terdapat 175 berita hoax di bulan Januari, 353 di bulan Februari, 453 di bulan Maret dan 353 di bulan April hingga pasca-hari pemilihan umum.

“Jelang pemilu, berita hoax melonjak drastis. Kategorinya bermacam-macam, paling banyak hoax tentang politik pencapresan Pemilu,” kata Rudiantara ketika berbicara dihadapan kader Muhammadiyah dalam dialog bertajuk “Menyatukan Perbedaan, Membangun Negeri” di Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu (24/4/2019).

Di hadapan para warga Muhammadiyah, Rudiantara membeberkan, satu di antara yang paling berbahaya dari konten hoax adalah terdapat muatan yang membenturkan sesama umat muslim satu sama lain.

Menurutnya hoax yang mengadu domba semacam ini yang paling berbahaya karena berpotensi memecah belah bangsa.

Karenanya ia menghimbau seluruh warga Muhammadiyah dan kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa bertabayyun dengan cara mengetahui karakteristik dari berita hoax yang beredar di media sosial.

“Caranya kenali ciri berita hoax. Kalau sudah mengatasnamakan golongan, di bawahnya ditulis “Ayo Viralkan”, ini kecenderungan hoax,” tegasnya.

Ia menambahkan, satu di antara penyebab cepatnya beredar berita hoax adalah watak umum masyarakat Indonesia yang ingin menjadi orang yang pertama mengetahui salah satu peristiwa, sehingga dengan cepat menyebarkan berita (forward) tanpa tahu kebenaran dari isi berita tersebut.

“Walaupun bukan yang bikin (hoax), tetapi menyebarkan, jadinya kan ikut dosa juga dan menjadi bagian dari berita fitnah. Kalau tidak tabayyun jadi rugi dua kali, pulsa kesedot, lalu menjadi bagian dari hal yang negatif tersebut. Rugi dunia, rugi akhirat,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, Menkominfo sempat memaparkan contoh berita hoax yang sempat menggemparkan publik. (Reynas/Tribunnews)

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved