Lebaran 2019

Pesan Idul Fitri Menteri Agama bagi Masyarakat yang Beda Pilihan di Pemilu 2019

Saya pikir setiap kali saya merayakan Idul fitri adalah kita merayakan setelah sebulan penuh kita berlatih diri menempa mengendalikan hawa nafsu kita

Pesan Idul Fitri Menteri Agama bagi Masyarakat yang Beda Pilihan di Pemilu 2019
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meninggalkan Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Rabu (8/5/2019). Lukman diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap seleksi jabatan di lingkungan Kementerian Agama tahun 2018-2019 dengan tersangka Romahurmuziy. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bicara soal makna Idul Fitri 1440 Hijriah 2019 yang jatuh pada Rabu (5/6/2019) kemarin.

"Saya pikir setiap kali saya merayakan Idul fitri adalah kita merayakan setelah sebulan penuh kita berlatih diri menempa mengendalikan hawa nafsu kita," ucap Lukman Hakim.

Harapannya, lanjut Lukman Hakim, kita semua bisa kembali ke jati diri kemanusiaan sehingga selalu dalam tradisi masyarakat Indonesia, saling memaafkan menjadi yang dikedepankan agar benar-benar suci kembali, bersih tidak hanya di mata Tuhan tapi juga‎ di mata sesama kita.

"Jadi momentum Idul Fitri adalah sebuah peristiwa tidak hanya kita kembali ke jati diri kemanusiaan, kita bisa saling memaafkan lalu kebersamaan di antara kita sebagai sebuah bangsa yang‎ heterogen majemuk bisa tetap terpelihara," tutur Lukman Hakim.

‎Terkhusus dalam konteks politik usai Pemilu serentak 2019, menurutnya moment Idul Fitri memiliki tingkat urgansi dan relevansi yang semakin tinggi betapa semua pihak harus bisa memaafkan siapapun diantara kita.

Baca: Mobil Berpelat Nomor Polisi Aceh Antar Istri dan 2 Putri Irwandi Yusuf ke Rutan KPK

‎Sekeras dan setajam apapun perbedaan diantara semuanya, kata Lukman Hakim, lantaran perbedaan memang sangat beragam maka kita harus bersedia memaafkan sehingga kebersamaan bisa terjaga.

"Perbedaan itu sesuatu yang lumrah ya, yang wajar. Ya itulah kondisi kita, bukan sesuatu yang harus diingkari atau dipungkiri atau dihindari. Tapi justru harus disikapi dengan penuh kearifan, dan cara kita saling memaafkan itu adalah bentuk kearifan tersendiri," tegasnya.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved