Pilpres 2019

Silaturahmi AHY ke Jokowi-Megawati dan Cuitan Andi Arief, Akankah Demokrat Berpaling ke Jokowi?

Partai Demokrat kembali menjadi perbincangan hangat karena dianggap sedang berupaya melakukan manuver politiknya

Silaturahmi AHY ke Jokowi-Megawati dan Cuitan Andi Arief, Akankah Demokrat Berpaling ke Jokowi?
Tribunnews.com
Kolase Jokowi SBY dan Prabowo 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meski pemungutan suara Pilpres 2019 telah usai, namun konstelasi politik pascapemungutan suara masih sangat dinamis.

Partai Demokrat kembali menjadi perbincangan hangat karena dianggap sedang berupaya melakukan manuver politiknya.

Meski belum ada pernyataan resmi Partai Demokrat beralih dukungan dari Prabowo-Sandiaga ke Jokowi-Maruf, namun gerak-geriknya sudah mulai terlihat.

Bahkan, sejak bulan lalu sikap Partai Demokrat sedikit berbeda dengan Partai Gerindra, misalnya usulan hak angket dan pembentukan panitia khusus (pansus) berkaitan dengan penyelenggaraan Pemilu 2019.

Saat itu, Demokrat dan PAN memilih diam.

Diketahui, hak angket dan pembentukan pansus itu diusulkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan diukung oleh Partai Gerindra.

Ancaman politikus Demokrat untuk mundur dari barisan Prabowo-Sandiaga pun sempat menyeruak jelang aksi 22 Mei.

Namun, ancaman tersebut segera dinetralisir oleh Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan bahwa Demokrat tetap di barisan Prabowo-Sandiaga hingga 22 Mei.

"Kenapa 22 Mei, karena koalisi partai politik ini memang dimaksudkan untuk capres. Nah peluit terakhir ditiupkan oleh wasit dalam hal ini KPU itu nanti tanggal 22. Kalau sudah ditiup peluit pertandingan berakhir, ya berakhir," kata Hinca.

Mengenai koalisi ke depan, lanjut dia, merupakan kedaulatan masing-masing partai politik. Ia mengatakan, koalisi pencapresan bukan koalisi seumur hidup.

Halaman
1234
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved