Penjelasan Ketua PA GMNI Soal Stigma Anti-Islam ke Soekarno Hingga Jokowi

PA GMNI merasa pengakuan negara atas kekeliruan tuduhan terhadap Soekarno soal pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) belumlah tuntas.

Penjelasan Ketua PA GMNI Soal Stigma Anti-Islam ke Soekarno Hingga Jokowi
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Ketua Umum PA GMNI, Ahmad Basarah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Persatuan Alumni Gerakan Nasional Indonesia (PA GMNI) merasa pengakuan negara atas kekeliruan tuduhan terhadap Soekarno soal pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) belumlah tuntas.

Bahkan hal itu sampai berimbas kepada Joko Widodo (Jokowi) yang dicap sebagai 'PKI' oleh sejumlah pengadu domba bangsa.

Demikian dikatakan Ketua Umum PA GMNI Ahmad Basarah, dalam acara peringatan wafatnya Bung Karno ke-49, di DPP PA GMNI, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019).

Basarah menuturkan, Bung Karno dituduh anti-Islam karena pernah membubarkan Masyumi pada 1961.

Padahal, kata Basarah, dalam Keppres pembubaran Masyumi tahun 1961 itu, sama sekali tak ada konsideran agama.

Tapi lebih karena keterlibatan dalam pemberontakan PRRI. Hal sama juga diberikan terhadap PSI.

Lalu pada TAP MPRS nomor 33 tahun 1967, eksplisit dituduhkan bahwa Presiden Soekarno mendukung pembrontakan PKI, walau tuduhannya tak pernah dibuktikan secara hukum.

Sebenarnya, ada salah satu konsideran pada TAP itu yang memerintahkan pemerintahan Orde Baru (Orba) memproses dan menyelidiki kebenaran tuduhan itu.

Namun hingga wafatnya Bung Karno pada 1970, hal itu belum pernah dilakukan.

Ketua Umum PA GMNI, Ahmad Basarah.
Ketua Umum PA GMNI, Ahmad Basarah. (Tribunnews.com/Chaerul Umam)
Halaman
123
Penulis: chaerul umam
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved