Eksklusif Tribunnews

Bambang Brojonegoro: Ibu Kota di Kalimantan Tak Perlu Lagi Bermacet Ria

Berikut lanjutan petikan wawancara Tribun Network dengan Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan

Bambang Brojonegoro: Ibu Kota di Kalimantan Tak Perlu Lagi Bermacet Ria
Tribunnews/JEPRIMA
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro saat ditemui tim Tribunnews saat wawancara khusus mengenai wacana pemindahan Ibu Kota Indonesia. Tribunnews/Jeprima 

Lebih mudah ketemu keluarga. Dan satu lagi tetap bisa bersekolah di institusi yang baik. Kita akan undang sekolah‑sekolah terbaik untuk berlokasi di ibu kota baru.

Seberapa besar pengaruh ibu kota baru ini, bagi masyarakat setempat?
Justru tadi, ketika Anda menanyakan mengenai sosial budaya, satu kriteria kita adalah mencari lokasi di mana masyarakat lokalnya sudah terbiasa menghadapi pendatang. Katakan ada 1,5 juta. Meskipun 1,5 juta itu, mungkin makan waktu 10 tahun.

Katakanlah 1,5 juta orang bermigrasi ke sana. Dan tentunya buat daerah tersebut, di mana Provinsi Kalimantan rata‑rata penduduknya tidak terlalu besar, mungkin sedikit ada kagetnya.

Tapi kita melihat cukup banyak kok, kelompok masyarakat Kalimantan yang menghadapi pendatang. Lebih bisa menerima kedatangan pendatang.

Kuncinya masyarakat lokal bisa terlibat juga dalam kegiatan di perkotaan. Kota ini kan' bukan kota tertutup. Kota ini, inklusif. Bukan kota yang eksklusif. Jadi kalau mereka mau ikut bekerja, mau ikut bisnis, di kota tersebut juga tidak ada masalah.

Baca: Menteri Bambang: Lokasi Persis ‘Ibu Kota Baru’ akan Ditetapkan Tahun Ini

Jadi malah akan menimbulkan dampak ekonomi baru untuk daerah tersebut. Karena di luar kota‑kota yang ada sekarang, ada kota baru yang size‑nya cukup besar, karena dia adalah ibu kota. Maksudnya, besar relatif dari kota‑kota sekitarnya.

Seberapa besar hal ini menguras pikiran Anda?
Kalau buat saya hal ini justru sesuatu yang sangat menarik, karena kebetulan background saya, meskipun S1 di bidang ekonomi. Tapi S2 dan S3 saya di perencanaan wilayah dan kota.  Jadi apa yang terjadi dengan proses ini, menurut saya sejalan dengan apa yang sudah lama saya pelajari. Dan nuansa ekonominya sangat kuat.

Karena bagaimanapun seperti yang Anda katakan, butuh pembiayaan, butuh kerja sama dengan pihak ketiga sehingga buat saya ini sangat menantang dan juga kegiatan ini sangat pas dari tugas utama Bappenas. Saya tidak stres. Tidak ada masalah, he‑he.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved