Ketua YLKI: Pengawasan di Pelabuhan Masih Sangat Lemah

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan sampai saat ini pengawasan di pelabuhan masih sangat lemah

Ketua YLKI: Pengawasan di Pelabuhan Masih Sangat Lemah
SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Penumpang saat turun dari KRI Makassar-590 usai sandar di Pelabuhan Gapura Surya, Tanjung Perak. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan sampai saat ini pengawasan di pelabuhan masih sangat lemah dan masih banyak pungli. Masih banyak kapal yang berlayar tapi sebenarnya tak layak layar khususnya kapal rakyat. “Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pengawasannya," ujar Tulus.

Dari sisi infrastruktur, paling penting sekarang ini adanya xray, seperti di bandara. Bagaimana kalau ada serangan teroris dan narkoba, siapa yang mengontrol padahal di laut. "Xray ini harus disediakan regulator sebagai infrastruktur," ujar dia.

Belum ada kebijakan. Untuk xray misalnya operator setuju seperti PT ASDP Indonesia Ferry. Tapi mereka tidak sanggup karena harganya mahal dan harusnya memang menjadi tanggung jawab regulator, khususnya untuk pelabuhan besar, seperti Tanjung Priok, Tanjung emas, Tanjung perak, dan lain-lain.

Tulus mencontohkan di China untuk memasuki stasiun KA harus dicek dengan xray, ujarnya.

Selain itu, infrastruktur untuk penanganan bagasi penumpang juga masih buruk dan harus ditata. Jika di bandar udara, bagasi penumpang didaftarkan, ditimbang dan dimasukkan ke dalam pesawat dengan ban berjalan dan petugas khusus. Sementara di pelabuhan barang bawaan masih ditenteng oleh penumpang atau porter. Akibatnya, barang bawaan atau bagasi penumpang kapal melebihi kapasitas berat yang ditentukan.

Akibat lemahnya pengawasan dan infrastruktur di pelabuhan ini seringkali pelabuhan-pelabuhan di perbatasan dimanfaatkan untuk perdagangan narkotika. Dalam hal barang bawaan penumpang yang melebihi kapasitas dan terjadinya transaksi narkotika biasanya pihak kapal disalahkan. Padahal, kapal fungsinya seperti pesawat udara, yaitu hanya sebagai sarana pengangkut. Sementara fungsi seleksi barang atau bagasi ada di pelabuhan.

Menurut Tulus, layanan setara bandara di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sangat dimungkinkan sepanjang ada kemauan dari regulator. "Kebijakan itu harus benar-benar untuk meningkatkan layanan di pelabuhan, bukan dalih untuk meningkatkan pendapatan," kata Tulus.

Sebelumnya, sejumlah penumpang mengeluhkan layanan pelabuhan yg dikelola Pelindo karena tidak diijinkan memasuki gedung ketika menunggu kapal. Akibatnya mereka terpaksa menunggu di luar lobi dan kantin yang tidak nyaman. Sebagian gedung pelabuhan memang baru, tapi mereka tidak bisa menikmati karena pintunya dikunci.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri sebelumnya mengkaji penerapan pelayanan pelabuhan setara dengan pelayanan di bandara. Pelayanan itu akan memenuhi setidaknya persyaratan fasilitas boarding pas maupun eticketing.

Dirjen Perhubungan Laut Agus H Purnomo menjanjikan tahun ini kajian tersebut akan selesai. Adapun tahap pertama penerapannya dilakukan di tiga pelabuhan di antaranya Pelabuhan Kali adem, Tanjung Pinang, serta Bau Bau.

Editor: FX Ismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved