Peduli Korban Banjir Konawe

Prediksi Bencana Alam 2019 yang Jadi Kenyataan

Dari prediksi bencana alam 2019 yang dilakukan BNPB, beberapa menjadi kenyataan, salah satunya banjir Konawe.

Prediksi Bencana Alam 2019 yang Jadi Kenyataan
Tribun Timur
Pasca banjir Konawe, warga masih kesulitan berjalan karena lumpur yang tebal. 

TRIBUNNEWS.COM – Pada akhir tahun 2018 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan prediksi bencana alam 2019 yang diperkirakan akan terjadi.

Prediksi ini dilakukan berdasarkan faktor musim, cuaca, kerusakan daerah sungai, lahan, dan hutan di suatu daerah.

Dari prediksi ini disimpulkan jika bencana Hidrometeorologi menduduki peringkat pertama dengan 95 persen kemungkinan akan terjadi. Jika begitu, lantas apa itu Hidrometeorologi?    

Menurut situs Fakultas Kehutanan UGM fkt.ugm.ac.id, Hidrometeorologi adalah bencana alam yang disebabkan curah hujan, angin, kelembapan, dan temperatur yang menyebabkan terjadi banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan angin puyuh, gelombang panas dan dingin, kebakaran, El Nino dan La Nina, tornado, topan dan angin fohn.

Berdasarkan prediksi tersebut, beberapa bencana alam ternyata terjadi. Mulai dari bencana banjir dan longsor di Sulawesi Selatan yang menyebabkan 82 orang meninggal, 3 orang hilang, dan 47 orang luka-luka; bencana banjir dan longsor di Sentani, Papua, yang menyebabkan 112 orang meninggal, 82 orang hilang, dan 965 orang luka-luka.

Sampai banjir dan longsor di Bengkulu yang menyebabkan 29 orang meninggal, 13 orang hilang, dan 4 orang luka; hingga Banjir Konawe, bencana alam 2019 yang dianggap paling parah.

Banjir Konawe berlangsung lama, yakni selama tiga minggu dengan masa tanggap darurat bencana selama dua minggu lebih.

Banjir yang terjadi pada 18 kecamatan di kabupaten Konawe, Sulawesi Utara ini pun menyebabkan 18.048 orang harus mengungsi, menghancurkan 193 rumah, merendam 5.762 rumah, bahkan mengisolir beberapa desa dan meluluh ratakan satu desa, yakni desa Tapuwatu.

Begitu dasyatnya dampak banjir Konawe, banyak orang yang mempertanyakan apa yang menyebabkan bencana alam ini dapat terjadi.

Berdasarkan Hasil penelitian dari balai kementerian lingkungan hidup, curah hujan tinggi dan kerusakan lingkungan dianggap sebagai penyebabnya.

Selain itu, pendangkalan sungai dan sistem drainase yang buruk di daerah Konawe juga disebut-sebut menjadi biang keladi terjadinya Banjir Konawe.

Mendapatkan Bantuan Dari Berbagai Pihak

Pihak Kalbe yang tengah membersihkan masjid yang terkena dampak banjir Konawe.
Pihak Kalbe yang tengah membersihkan masjid yang terkena dampak banjir Konawe. (ISTIMEWA)

Banjir Konawe tak luput mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintahan seperti kementerian dan BUMN, hingga berbagai pihak swasta. Salah satunya seperti yang dilakukan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) pada Kamis, (4/7/2019).

Melalui Kalbe Consumer Health Division yang memproduksi obat bebas (over the counter/OTC), Kalbe memberikan bantuan kepada korban banjir di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Utara, dan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Bantuan simbolis dilakukan DSPS Kalbe Consumer Health, Abdul Hakim, kepada Kepala Lingkungan Bakke Orae, Abkar, di Pusat Kesehatan Kelurahan Salomenraleng, Kec. Tempe, Kab Wajo.

Sedangkan bantuan di Kab. Konawe diserahkan Area Activation Kalbe Consumer Health, Indra Cerrado, kepada Sekdis BPMD, Usman, di Rumah Jabatan Bupati Konawe Utara.

bantuan yang diberikan kalbe kepada korban banjir konawe

Bantuan tersebut berupa kegiatan bakti sosial seperti kegiatan bersih-bersih di fasilitas umum, yakni masjid, sekolah, dan lingkungan sekitar tempat tinggal warga, serta bantuan berupa pemberian obat-obatan, edukasi kesehatan, dan pemeriksaan kesehatan gratis kepada korban banjir Konawe di posko kesehatan setempat.

“Kalbe sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat terutama para korban bencana. Hal ini sejalan dengan komitmen Kalbe dalam meningkatkan kesehatan untuk hidup yang lebih baik,” ujar Direktur Kalbe Consumer Health, Feni Herawati.

Melalui kegiatan ini, tambah Feni, dapat membantu korban bencana yang mulai mendapatkan gangguan penyakit pasca bencana, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, penyakit kulit, hipertensi, demam berdarah, demam tifoid, dan leptospirosis.

“Lewat bantuan obat dan edukasi kesehatan ini, kami berharap masyarakat lebih peduli akan kesehatan dan menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan pasca bencana,” ujar DSPS Kalbe Consumer Health, Abdul Hakim.

Penulis: Firda Fitri Yanda

Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved