Pertamina Pastikan Kebocoran Minyak di Blok Migas ONWJ Bukan Bencana Nasional

Menurutnya, pemerintah pusat menyebut kejadian tersebut masih bisa dikendalikan oleh Pertamina selaku operator dari penambangan minyak bumi

Pertamina Pastikan Kebocoran Minyak di Blok Migas ONWJ Bukan Bencana Nasional
net
ilustrasi eksplorasi migas 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Pertamina Hulu Energi (PHE), Dharmawan H Samsu mengatakan kebocoran minyak di sumur YYA-1 di Blok Migas ONWJ (Offshore North West Java) yang terjadi sejak 14 Juli 2019 tidak berpotensi sebagai bencana nasional.

Menurutnya, pemerintah pusat menyebut kejadian tersebut masih bisa dikendalikan oleh Pertamina selaku operator dari penambangan minyak bumi di sumur tersebut.

Baca: Pertamina Sebut Penanganan Sumur Minyak Bocor di Blok ONWJ Selesai 7-8 Minggu

“Dari kementerian terkait mengatakan peristiwa ini masih dalam kendali dan hingga saat ini terus dilakukan energy isolation agar tumpahan minyak dan gas bumi atau oil boom tak mencapai pantai yang menyebabkan dampak bagi masyarakat,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (26/7/2019).

Dharmawan mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah-langkah pembersihan tumpahan minyak dengan mengerahkan 27 kapal baik di lautan maupun pembersihan minyak yang sudah mencapai pesisir Karawang.

Ia juga mengatakan Pertamina melibatkan masyarakat termasuk nelayan dalam hal pembersihan minyak dengan pemberian sejumlah kompensasi.

Pertamina juga mendapatkan bantuan dari sejumlah pihak dalam penanganan tumpahan minyak ini seperti SKK Migas, Kementerian ESDM, Kementerian LHK, Pemerintah Daerah, Dinas Lingkungan Hidup Daerah, TNI dan Kepolisian, Kementerian Perhubungan Ditjen Perhubungan Laut, KSOP, KKP, Pushidros AL, KKKS dan berbagai instansi lainnya.

“Kami juga mendapatkan bantuan Giant Octopus Skimmer dari Singapura untuk menyedot tumpahan minyak. Minyak yang tumpah ini akan dikelola menjadi limbah dan sedang dalam kajian,” imbuhnya.

Saat ini menurutnya Pertamina sudah meminta bantuan perusahaan asal Amerika Serikat, Boots & Coots untuk melakukan penutupan sumur minyak di anjungan YYA-1 tersebut.

Dharmawan menjelaskan perusahaan tersebut berpengalaman menangani kasus dengan dampak lebih besar yang pernah terjadi di Teluk Meksiko yang dikenal dengan Deepwater Horizon.

Halaman
12
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved