BNPB: Asap Karhutla di Riau dan Kalteng Tak Sampai ke Singapura dan Malaysia

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dan Pekanbaru, berdampak pada asap yang menuju ke arah ke tenggara dan utara

BNPB: Asap Karhutla di Riau dan Kalteng Tak Sampai ke Singapura dan Malaysia
SRIWIJAYA POS/SYAHRUL HIDAYAT
Asap dari kebakaran lahan semak belukar di kawasan Desa Sri Banding, menutupi jarak pandang Jalan Tol Palembang Inderalaya di KM 13-400, Pemulutan, Ogan Ilir, Sumsel, Senin (5/8/2019). Petugas terpaksa bersiaga di pinggir jalan memberi aba-aba dan membuka satu ruas jalan dan menginstruksikan pengendara untuk memperlahan kecepatan. SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dan Pekanbaru, berdampak pada asap yang menuju ke arah ke tenggara dan utara

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selain di Pekanbaru, Riau, asap juga terdekteksi di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Namun, meski begitu, asap tersebut tidak masuk ke negara tetangga sekitar.

"Tidak terdeteksi transboundary haze, atau kata lainnya asap tidak masuk ke negeri tetangga yaitu Singapura dan Malaysia," kata Plt Kapusdatin Humas BNPB, Agus Wibowo, Sabtu (9/8/2019).

Berdasarkan pantauan satelit, BNPB mencatat hotspot sedang dan tinggi pada pukul 07.00 WIB di beberapa provinsi di bagian barat mauoun tengah Indonesia.

"Di Riau 126 titik, Jambi 4 titik, Sumatera Selatan 13, Kalimantan Barat 533 titik, Kalimantan Tengah 159 titik, dan Kalimantan Selatan 13 titik," pungkas Agus.

Baca: Dampak Karhutla, BNPB Catat Kualitas Udara di Kota Pekanbaru Kurang Sehat

Sebagaimana diketahui, kebakaran hutan dan lahan di Riau hingga saat ini masih terjadi di sejumlah daerah. Karhutla ini mengakibatkan beberapa wilayah diselimuti kabut asap.

Sementara itu, Presiden Jokowi menjelaskan, karhutla pada 2015 dan tahun-tahun sebelumnya hampir terjadi di semua provinsi yang kerugiannya mencapai Rp 221 triliun atas lahan terbakar seluas 2,6 juta hektare.

Berdasarkan data yang diterima, kata Jokowi, jika dibandingkan dengan tahun ini dengan 2015 kejadian karhutla menurun 81 persen. Tetapi, dibanding 2018 dengan saat ini mengalami kenaikan dan ke depan tidak boleh terjadi kenaikan lagi. 

"Saya minta gubernur, pangdam, kapolda kerja berkolaborasi, bekerja sama dibantu dengan pemerintah pusat, panglima TNI, kapolti, BNPB, BRG. Usahakan jangan sampai kejadian baru bergerak," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2019).

Menurutnya, menghilangkan karhutla memang sulit, tetapi harus ditekan setiap tahunnya dengan melakukan pencegahan dan jangan menunggu api membesar baru dipadamkan. 

"Api sekecil apapun segera padamkan, kalau sudah gede apalagi di hutan gambut sangat sulit sekali padamnya. Jangan sampai ada yang namanya status siaga darurat, jangan sampai," ucap Jokowi. 

Penulis: Reza Deni
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved