Rumah Milenial Sebut Peran BUMN-BUMDes Vital untuk Bangsa

Namun sayangnya, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dibenahi dalam tubuh BUMN maupun BUMDes.

Rumah Milenial Sebut Peran BUMN-BUMDes Vital untuk Bangsa
Ist/Tribunnews.com
Diskusi bertajuk 'Bebersih BUMN dari Radikalisme dan Korupsi, Benahi BUMDes Menjadi Perusahaan Big Data Centre Desa' di Gedung Joeang 45, Jakarta, Senin (12/8/2019). Diskusi diinisiasi organisasi Rumah Milenial Indonesia. 

Sementara Budiman Sudjatmiko ikut menyampaikan pentingnya memberantas radikalisasi dan korupsi di dalam tubuh lembaga negara maupun Badan Usaha Milik Negara.

"Ini adalah tugas sejarah zaman kita. Sesuatu yang harus dikerjakan oleh semua orang yang cinta negara dan cinta masa depan anak cucunya. Kita harus sama-sama mengembalikan semua milik negara kepada seluruh anak bangsa. Baik kekayaannya maupun nilai-nilainya yang bebas dari korupsi maupun cuci otak yang mengganggu tujuan kita bernegara Indonesia berdasar Pancasila," katanya.

KH. Ahmad Ishomuddin dari PBNU menyampaikan bahwa sejak berdirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Indonesia terus-menerus menghadapi ujian yang berat dan besar layaknya penyakit, yakni intoleransi dan radikalisme yang bisa berkembang menjadi terorisme.

"Radikalisme dan intoleransi merupakan bencana besar bagi bangsa Indonesia. Siapa pun masyarakat yang intoleran patut ditindak tegas. Kaum radikal yang menentang Pancasila harus diberantas karena bisa mengancam keutuhan bangsa dan negara," tegasnya.

Hotasi Nababan sebagai pemerhati BUMN menyampaikan bahwa BUMN juga harus lebih memperhatikan masyarakat lokal utamanya dalam mengerjakan proyek di daerah.

"BUMN yang menguasai seluruh proyek hingga ke tingkat daerah dapat menyebabkan lesunya perekonomian lokal. Peran swasta yang ada di daerah dalam pembangunan juga penting dalam mendukung perekonomian lokal," katanya.

Ketua Umum PB HMI, Saddam Al Jihad menyampaikan tentang apa yang dicita-citakan Bung Karno, yaitu Pancasila diharapkan menjadi ideologi dunia. Ideologi Pancasila kemudian menjadi moderasi terhadap ideologi-ideologi lain.

"Ide kreativitas dari tenaga-tenaga muda masih dibutuhkan saat ini. Penting untuk organisasi seperti HMI, GMNI, PMKRI, GMKI maupun PMII untuk kembali masuk ke kampus sebagai tempat mahasiswa belajar nasionalisme dan kebangsaan. Namun untuk kelompok radikal harus kita atasi dan hadapi bersama," tegasnya.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved