Kisah Kapten Yaser, Nahkoda yang Nyaris Menjadi Korban Keganasan Gelombang di Selat Pakuafu

Hari itu adalah hari terakhir KPM Citra Mandala Bahari atau JM Ferry melaksanakan tugasnya berlayar menyeberang dari Pelabuhan Bolok

Kisah Kapten Yaser, Nahkoda yang Nyaris Menjadi Korban Keganasan Gelombang di Selat Pakuafu
Tribunnews.com/ Ilham Rian Pratama
Kapten Yaser, nahkoda kapal KM Express Bahari sedang berada di ruang kemudinya, Pelabuhan Baa, Rote, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/8/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, ROTE - Hujan turun sangat lebat membuat jarak pandang menjadi terbatas.

Laut di antara Pulau Timor, Pulau Rote, dan Pulau Semau sangat bergelora.

Gelombang tinggi berkejar-kejaran seakan hendak memangsa.

Setiap tahun sejak dulu kala, orang Rote tahu betul itulah karakter selat yang dinamai Pukuafu.

Kapten Yaser masih ingat kejadian malam itu pada 31 Januari 2006 malam.

"Saat itu langit gelap gulita. Angin bertiup kencang. Itu memang ombaknya besar sekali, sampai 5 meteran," tutur Yaser, Rabu (28/8/2019).

Hari itu adalah hari terakhir Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Citra Mandala Bahari atau JM Ferry melaksanakan tugasnya berlayar menyeberang dari Pelabuhan Bolok, Kupang menuju pelabuhan Pantai Baru, Rote.

Baca: BPPT Kenalkan Inovasi Sistem Navigasi Baru untuk Keselamatan Transportasi Laut

Baca: Laga Terbaru Persija yang Tanpa Kemenangan, Ada Hujan Kartu Kuning

Baca: Pemadaman Listrik di Jakarta Akibat Gangguan Pembangkit Muara Karang

Baca: Pelaku Industri Keuangan, Pendorong Percepatan Ekonomi dan Keuangan Pasca-Pilpres

"Hari dimana Pukuafu sedang foti," ujar Yaser.

Yaser menjelaskan foti adalah tarian khas Rote yang menghentak-hentak kaki, seperti breakdance.

Halaman
123
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved