Jawab Tantangan Jokowi soal Era Disrupsi, Tenaga Kerja Indonesia Harus Dipersiapkan

Dia menambahkan, tanpa pembenahan serius dalam pendidikan maka menyisakan masalah pada kualitas tenaga kerja.

Jawab Tantangan Jokowi soal Era Disrupsi, Tenaga Kerja Indonesia Harus Dipersiapkan
KOMPAS/WISNU
AAGN Ari Dwipayana 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, AAGN Ari Dwipayana, mengatakan Indonesia harus menyiapkan diri menghadapi era disrupsi, dengan memperkuat emerging skill tenaga kerja yang dibutuhkan.

“Berbagai tantangan di era keterbukaan dan revolusi industri jilid 4.0, penting bagi kita ikut merefleksikan kondisi dan kesiapan tenaga kerja di era revolusi industri 4.0 ini,” kata Ari, Jumat (7/9/2019).

Pernyataan itu menanggapi amanat Presiden Joko Widodo yang mengingatkan akan kesiapan masyarakat untuk menghadapi era disrupsi yang mengubah perilaku masyarakat dari semula berkegiatan fisik menjadi dalam jaringan.

Ari menjelaskan, Indonesia mempunyai tantangan memperkuat kualitas pekerja migran ke luar negeri sehingga bukan hanya menyumbangkan remiten, tetapi juga mengisi tenaga kerja dengan skill yang tinggi di pasar tenaga kerja global.

Baca: Seorang Suami Tikam Istri dengan Pisau, Korban Langsung Tersungkur di Sebelah Bayi 2 Bulan

Apalagi, Sekretaris Jenderal PP KAGAMA itu mengungkapkan Indonesia sedang memasuki periode “bonus demografi”, dimana 70 persen penduduk Indonesia akan berada pada usia kerja yang akan mencapai puncaknya pada 2025–2030.

Menurut dia, bonus demografi ini adalah berkah dan modal pembangunan yang penting, namun di sisi lain akan menjadi bencana jika Indonesia gagal memperkuat SDM dan juga gagal menyediakan lapangan pekerjaan.

Selain itu, kata dia, Indonesia menghadapi tantangan persaingan ekonomi antar negara yang semakin sengit. Dalam persaingan itu kuncinya adalah kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Itulah sebabnya reformasi ketenagakerjaan dari hulu sampai hilir merupakan keharusan. Apalagi 51 persen tenaga kerja lulusan SD. Di hulu, kita menghadapi persoalan struktural belum tersambungnya output sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” kata dia.

Dia menambahkan, tanpa pembenahan serius dalam pendidikan maka menyisakan masalah pada kualitas tenaga kerja.

Untuk membahas masalah ini, KAGAMA menggelar seminar Pra-Munas yang kedua akan digelar di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu (7/9/2019).

Seminar kali ini bertajuk “Ketenagakerjaan dan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Seminar tersebut akan dihadiri Menteri Ketenagakerjaan RI Muhammad Hanif Dhakiri sebagai keynote speaker, dan empat pembicara masing-masing adalah: Sukamdi, dosen Fakultas Geografi UGM; Bambang Satrio Lelono, Dirjen Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan; Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE; dan Aji Erlangga Martawireja, Pengirim Pemagangan ke Jepang.

Seminar Nasional juga akan menghadirkan dua pembahas yaitu Diahhadi Setyonaluri dari Lembaga Demografi FEB UI dan Agustina Murbaningsih, Deputi Kemaritiman Sekretariat Kabinet.

Seminar ini merupakan rangkaian Seminar Nasional di lima kota lima pulau (Medan, Balikpapan, Semarang, Manado, dan Bali) untuk menyambut Munas XIII KAGAMA yang dilaksanakan di Bali pada tanggal 15-17 November 2019.

Pada MUNAS tersebut, Presiden Joko Widodo, alumnus Fakultas Kehutanan UGM dijadwalkan hadir dan membuka acara munas secara resmi.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved