Filosofi Habibie, Berawal di Akhir, Berakhir di Awal

Pak Habibie menginisiasi kerjasama pertama Indonesia dalam membuat pesawat adalah dengan CASA, industri manufaktur pesawat asal Spanyol.

Filosofi Habibie, Berawal di Akhir, Berakhir di Awal
dok. BPPT

Mewujudkan Indonesia Maju, menurut Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, sangat relevan dengan cara kerja Prof. Habibie, yakni dengan filosofi Berawal di Akhir, dan Berakhir di Awal. 

Artinya kata Hammam, dengan produk yang telah ada, lalu dilakukan reverse engineering, dan cari lisensinya. Maka saat itu Pak Habibie menginisiasi kerjasama pertama Indonesia dalam membuat pesawat adalah dengan CASA, industri manufaktur pesawat asal Spanyol. 

Baca: Kejar Ketertinggalan Teknologi, Ini Filosofi Sistem Kerja yang Dikenalkan Eyang Habibie

“Dari kerjasama tersebut, kita bisa menghasilkan dua model pesawat yakni, CN 212 dan CN 235. Yang membanggakan dari kerjasama ini, kita sudah mampu membuat N 250, dimana huruf C nya sudah hilang. Ini berarti semuanya sudah produksi dalam negeri, hasil dari reverse engineering. Semua itu upaya agar kita bisa mengejar ketertinggalan teknologi,” ungkapnya di Kantor BPPT, Jakarta (13/09/2019)

Kepala BPPT menganggap apa yang dilakukan oleh Prof. Habibie itu merupakan hal yang wajar dilakukan, apalagi produk yang sudah ada itu teknologinya sudah proven dan digunakan oleh banyak negara.

 Hammam mencontohkan bagaimana Tiongkok bisa sampai memproduksi kereta cepat, seperti yang akan digunakan di koridor Jakarta – Bandung. Pertama kali yang mereka lakukan adalah membeli kereta cepat dari Jerman, mereka oprek (reverse engineering -red) sendiri, hingga akhirnya bisa mandiri dalam produksi, walau masih ada beberapa komponen yang impor dari Jerman.

“Tiongkok sendiri telah mampu membuktikan dampak positif dari reverse engineering. Mereka secara bertahap mampu mengejar ketertinggalan teknologi dalam produksi kereta cepat,” tegas Hammam.

Hammam menilai legacy dari Prof. Habibie itu tidak bisa dipadamkan, karena berupa  keberhasilan. Legacy itu adalah Prof. Habibie sebagai pahlawan teknologi di Indonesia.

Baca: Makam BJ Habibie Dijadikan Ajang Foto oleh Warga, Warganet Menyayangkan

“Jadi BPPT itu adalah legacy dari Eyang Habibie, legacy semangat Presiden RI ke-3. BPPT akan terus melahirkan inovasi dan layanan teknologi terbaik untuk Indonesia Maju. Selalu ada, forever and ever membawa spirit Habibie membangun Indonesia melalui pemanfaatan Iptek dan inovasi,” tutup Hammam. 

Perlu diketahui Presiden RI Joko Widodo, bertindak sebagai inspektur dalam upacara prosesi pemakaman BJ Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Kamis (12/10/2019). 

Disampaikan oleh Presiden Jokowi, semangat dan pemikiran visioner, merupakan contoh yang dapat kita teladani dari sosok almarhum Prof. BJ Habibie.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved