Revisi UU KPK

Pasca-Pimpinan KPK Serahkan Mandat: Yusril Beri Tanggapan hingga Firli Bahuri Jawab soal Penolakan

Pakar hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra memberikan tanggapannya perihal langkah pimpinan KPK menyarahkan mandat.

Pasca-Pimpinan KPK Serahkan Mandat: Yusril Beri Tanggapan hingga Firli Bahuri Jawab soal Penolakan
TRIBUN/IQBAL FIRDAUS
Lambang Komisi Pemberantasan Korupsi di atas gedung KPK ditutup sebagai simbolik pada aksi Seribu Bunga dengan tagar #SAVEKPK di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta Selatan, Minggu (8/9/2019). Aksi ini digelar dengan membagikan bunga dan kertas tulisan kepada masyarakat sebagai simbol terhadap penolakan revisi Undang-Undang KPK yang dapat melemahkan KPK untuk memberantas korupsi. TRIBUNNEWS.COM/IQBAL FIRDAUS 

3. Firli Bahuri Jawab Penolakan

Ketua KPK terpilih, Irjen Pol Firli Bahuri menjawab soal penolakan dirinya sebagai Ketua KPK terpilih oleh sebagian pihak. 

Hal itu diungkapkan jendral bintang dua tersebut ketika melakukan kunjungan kerja ke Mapolres OKU Timur Minggu (15/9/2019).

Menurut Firli, untuk menjadi pimpinan KPK dirinya mengikuti seleksi dan melaksanakan semua prosedur yang ada.

Baca: Akademisi Ini Setuju Dengan Revisi UU KPK

Dirinya mengaku tidak meminta bantuan kepada siapapun kecuali kepada penguasa tunggal yakni Allah SWT.

Karena tanpa izin-NYA satu helai daun pun tidak akan terjatuh.

"Yakinlah kemuliaan itu milik Allah dan dia akan melimpahkan kemuliaan kepada hamba-nya yang dia kehendaki. Selain itu Allah jualah yang memiliki kuasa untuk menghinakan hambanya. Ini tertulis dalam Al-Quran jadi jangan takut. Berbuat baiklah dan jangan mendendam," kata Firli dikutip dari TribunSumsel. 

Terpilih Jadi Ketu KK Irjen Pol Firli Nyekar ke Makam Orang Tuanya
Terpilih Jadi Ketu KK Irjen Pol Firli Nyekar ke Makam Orang Tuanya (Leni Juwita/Sriwijaya Post)

Firli mengaku berasal dari pedesaan yang ketika kecil bersekolah tanpa mengenakan sepatu.

Bahkan dalam satu hari baju yang digunakan hanya sehelai untuk seluruh keperluan mulai dari berkebun, mencari durian serta beraktifitas lainnya.

Namun dengan tempaan dan wejangan-wejangan dari orangtuanya Firli bisa mencapai karir gemilang hingga menjadi Kapolda dan terpilih dalam seleksi pimpinan KPK.

4. Mahfud MD Minta Masyarakat Tak Ragukan Dulu Firli dkk

Mafud MD meminta masyarakat tak meragukan dulu komitmen pimpinan KPK yang baru termasuk Irjen Firli. 

Hal ini berkaca pada proses pemilihan komisioner KPK pada peridode lalu. 

Mahfud mengungkapkan, saat itu, sejumlah pihak menilai bahwa Agus Rahardjo, Saut Situmorang, Basaria Panjaitan, Alexander Marwata dan Laode M Syarif bukan sosok baik dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Baca: Alasan Alexander Marwata Kembali Dipilih jadi Pimpinan KPK: Petahana dan Berani Buka-bukaan

Namun ternyata dalam perjalananya, Agus Rahardjo cs mampu memimpin KPK.

Kinerja mereka dalam pemberantasan korupsi juga terbilang mumpuni.

"Saudara masih ingat, ketika dipilih orang bilang semua jelek, KPK akan hancur dibawah orang ini. Ternyata bagus kinerjanya, ya sekurang-kurangnya tidak mengecewakan," kata Mahfud di Yogyakarta, Minggu (15/9/2019) seperti dikutip dari Kompas.com. 

Mahfud MD di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019).
Mahfud MD di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019). (Tribunnews.com/ Rizal Bomantama)

Mahfud mengatakan, salah satu faktor penting dalam mendorong kinerja pimpinanan KPK adalah lingkungan.

Salah satunya dorongan dari masyarakat terhadap kinerja pimpinan lembaga antirasuah itu.

"Mungkin yang begini belum tentu begitu. Karena apa yang mendorong bagus tidak bagus itu lingkungan. Kalau kita masyarakat mendorong mereka berbuat bagus, ya bagus," kata Mahfud.

Ia sekaligus mengingatkan bahwa yang berhak menentukan lima komisioner KPK adalah DPR RI.

Baca: Saat Saut Situmorang Diskusi dengan Pimpinan KPK Lainnya di Warung Pecel, Ini yang Mereka Bahas

Apabila lima pimpinan baru KPK sudah terpilih dan masyarakat tidak puas, ia pun menyarankan untuk mendorong pemberantasan korupsi dengan jalan lain.

"Ini sudah jadi. Saya, saudara enggak ikut milih. Kalau ikut milih mungkin enggak milih mereka, tapi yang berwenang memilih sudah memilih mereka," ujar Mahfud.

"Cara hidup bernegara begitu ya sudah, mau apa? Kita kan tidak boleh karena tidak cocok, lalu 'nyempal', ini kan negara kita, ya perbaiki," lanjut dia.

(TribunSumsel/Evan Hendra) (Kompas.com/Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma/Ardito Ramadhan)

Penulis: Daryono
Editor: Siti Nurjannah Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved