Kabut Asap

Mabes Polri : Asap Pekat di Riau karena Daerah Itu Merupakan Lokasi Pusaran Angin

"Dari pesawat TNI AU, baik Hercules maupun Casa sudah melakukan penyemaian awan untuk hujan buatan. Water bombing satu hari lebih dari sekitar 40-50 s

Mabes Polri : Asap Pekat di Riau karena Daerah Itu Merupakan Lokasi Pusaran Angin
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Kabut asap pekat menyelimuti kawasan Sungai Siak, Kamis (12/9/2019). Berdasarkan data yang disiarkan BMKG, terpantau 1.316 titik panas di Riau. Sebanyak 279 titik di antaranya berada di Riau. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Riau disebut menjadi tempat berkumpulnya asap pekat imbas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lantaran letak geografis Riau adalah lokasi pusaran angin di kawasan Sumatera. 

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan penjelasan itu didapat setelah pihaknya berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

"Diskusi dengan BMKG, kenapa kumpul asapnya di Riau. Karena Riau itu merupakan tempat pusaran angin di (kawasan) Sumatera. (Asap) Mau masuk ke Selat Malaka, putaran anginnya di Riau. Jadi asap itu berkumpul sehingga terjadi penumpukan. Kemudian (asap) lari ke negara tetangga," ujar Dedi di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2019). 

Baca: Infeksi Paru-paru, Kivlan Zen Dirawat di RSPAD Gatot Soebroto

Baca: Nia Ramadhani Ungkap Kebiasaan Ardi Bakrie Saat di Kasur Berukuran 4 Meter,'Kakinya ke Sana ke Sini'

Baca: Peluncuran Buku Eksplorasi Budaya Suku Boti, Alam adalah Kunci Kehidupan

Namun, ia mengatakan Polri tak memiliki kapasitas untuk menangani penyebab munculnya asap pekat tersebut, melainkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pasalnya, Polri hanya memiliki wewenang untuk melakukan penegakan hukum. 

Akan tetapi, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu menyebut tim gabungan karhutla telah mencoba memadamkan api di wilayah Riau dengan melakukan water bombing sekitar 40 sorti per hari. Diketahui, satu sorti setara dengan 500 liter air. 

"Dari pesawat TNI AU, baik Hercules maupun Casa sudah melakukan penyemaian awan untuk hujan buatan. Water bombing satu hari lebih dari sekitar 40-50 sorti," ungkapnya. 

Lebih lanjut, ia menegaskan titik api di Sumatera memang paling banyak terlihat di Riau. Sementara di Kalimantan, titik api terlihat pula di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. 

"Sebenarnya kemarin sudah mengalami penurunan lebih dari 600 titik jadi 350-400 titik api. Kebakarannya kecil, tapi jumlahnya cukup banyak," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved