Sespimti Polri Gelar Bedah Buku ‘Menerawang Indonesia’ Karya Dorodjatun Kuntjoro Jakti

Kegiatan ini bertujuan agar peserta Sespimti Polri Dikreg ke-28 memahami strategis Indonesia.

Sespimti Polri Gelar Bedah Buku ‘Menerawang Indonesia’ Karya Dorodjatun Kuntjoro Jakti
Istimewa
Sespimti Lemdiklat Polri Digreg ke-28 TA. 2019 hari ini menggelar seminar bedah buku berjudul ‘Menerawang Indonesia pada Dasawarsa ketiga Abad ke-21’ di Auditorium PTIK Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sespimti Lemdiklat Polri Dikreg ke-28 Tahun 2019 menggelar bedah buku ‘Menerawang Indonesia’ karya Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).

Kegiatan ini bertujuan agar peserta Sespimti Polri Dikreg ke-28 memahami strategis Indonesia.

“Saya sangat berterima kasih ke Sespimti Polri. Dulu buku ini atas pesanan dari sekelompok pemuda pemudi yang merasa bahwa mereka memerlukan semacam penerawangan ke depan,” kata Prof Dorojatun melalui keterangannya, Jumat (20/9/2019).

Menurut dia, Indonesia sangat terbuka untuk diserang oleh negara-negara asing. Karena, kata dia, Indonesia sudah banyak diketahui oleh negara dunia dan lalu lintas wilayahnya pada tahun mendatang juga akan semakin sibuk.

Baca: Sule Minta Izin Cari Istri ke Rizky Febian Usai Genap Setahun Menduda

Baca: Kabut Asap Kiriman dari Indonesia Masuk Singapura, Ajang Balap F1 Terancam?

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 20 September 1946, Festival Film Cannes Pertama Kali Digelar

Ia mengatakan jumlah penduduk dunia saat ini menuju 7 miliar, namun angka tersebut akan bertambah terus jumlah penduduknya. Bahkan, diperkirakan tahun 2045 bisa mencapai 9 miliar penduduk.

“Saya lihat terbuka sekali ya Indonesia untuk dilewati lalu lintasnya, baik darat maupun laut yang semakin lama tambah sibuk. Maka, lalu lintas yang lewat Indonesia itu menyebabkan kita akan kewalahan mengatur,” ujarnya.

Untuk itu, Dorodjatun mengatakan Indonesia harus bisa berperan aktif di konferensi tingkat ASEAN atau dunia. Lewat konferensi itu, kata dia, proses diplomatik akan menjadi kekuatan agar Indonesia bisa menghindari serangan.

“Kita harus mengutamakan diplomasi tak henti-hentinya dan pandai membaca situasi. Kalau terjadi gejala yang menuju pada konflik mempergunakan perairan atau wilayah udara kita, maka kita harus betul-betul tegas, kita tidak akan berpihak kepada siapa pun kecuali untuk tujuan damai,” tandasnya.

Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved