Penyemaian Garam Dilakukan Pada Potensi Awan dengan Kelembaban Relatif 70 Persen

PBBT akan melakukan penyemaian garam (NaCl) pada potensi awan yang memiliki kelembaban relatif (relative humidity) sekitar 70 persen.

Tribunnews.com/Fitri Wulandari
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza saat ditemui di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hujan yang mulai turun di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) semakin menggiatkan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan yang tengah dilakukan untuk menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT terus mengoptimalkan operasi tersebut.

Kepala BPPT Hammam Riza saat dihubungi Tribunnews mengatakan bersinergi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pihaknya akan melakukan penyemaian garam (NaCl) pada potensi awan yang memiliki kelembaban relatif (relative humidity) sekitar 70 persen.

Hal itu dilakukan untuk memunculkan hujan buatan.

"Kita terus meningkatkan operasi TMC-nya karena setiap kali ada kesempatan (muncul) awan yang memang sudah punya relative humidity di 70 persen itu akan kita semai, supaya bisa segera menjadi awan hujan," ujar Hammam, eksklusif kepada Tribunnews, Jumat (20/9/2019) malam.

Untuk melakukan penyemaian itu, BPPT pun membutuhkan sinergi dari BMKG yang memberikan informasi mengenai potensi awan agar proses TMC bisa dilakukan secara efektif.

Baca: Taufiq Husen Selamat Saat Anggota KKB Baku Tembak dengan Polisi: Saya Hanya Penebang Kayu

"Oleh karenanya, setiap kali ada kesempatan kita maksimalkan tentunya dari peta potensi awan yang diberikan oleh BMKG," jelas Hammam.

Setelah memperoleh peta potensi awan dari BMKG, maka selanjutnya pihaknya akan memulai proses penyemaian menggunakan pesawat yang disediakan oleh TNI Angkatan Udara (AU).

"Kita langsung menyiapkan pesawat yang didukung oleh TNI untuk bisa melaksanakan sorti penerbangan, melaksanakan penyemaian awan," kata Hammam.

Perlu diketahui, TMC dapat dilakukan jika masih adanya awan, awan tersebut merupakan objek untuk penyemaian garam demi memunculkan hujan buatan.

Sebelumnya, karhutla yang terjadi di Riau saat ini sudah sampai pada kategori darurat lantaran dampak kabut asap telah memasuki pemukiman warga sehingga menyebabkan gangguan pernafasan.

Bahkan karhutla tidak hanya terjadi di Riau saja, namun juga Kalimantan dan diduga dampak asapnya pun terbawa hingga melewati perbatasan Indonesia, yakni ke Malaysia dan Singapura.

Presiden Jokowi, para menteri serta pimpinan lembaga terkait pun telah melakukan Rapat Terbatas langsung di Riau, pada Senin (16/9/2019) lalu, terkait langkah apa yang harus diambil untuk menangani bencana tersebut.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved