Kritik Ray Rangkuti untuk Aktivis 98 di Barisan Elit Politik

Oleh karena itu, saya yakin gerakan mahasiswa September 2019 ini adalah murni gerakan mahasiswa," ungkap Ray, Rabu (24/9/2019).

Kritik Ray Rangkuti untuk Aktivis 98 di Barisan Elit Politik
Tribunnews/Herudin
Bentrok massa yang terjadi di sekitar Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019) dini hari. Demonstrasi yang menuntut pembatalan revisi UU KPK dan penolakan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) berujung bentrok dengan polisi. 

TRBUNNEWS.COM, JAKARTA-Jika satu gerakan mahasiswa terjadi Meluas, dengan cakupan daerah yang melibatkan hampir seluruh pulau, bahkan provinsi, melibatkan jumlah massa puluhan atau bahkan ratusan ribu.

Kemudian dilakukan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, tanpa kepemimpinan menonjol, hampir semua basis massa tidak berada dalam satu garis komando. Memiliki isu utama yang dituju, saat yang sama memiliki beberapa variasi isu berbeda.

Dengan militansi yang terjaga dan spartan -umumnya ditandai dengan tidak bergeming, sekalipun ditindak dengan cara yang berlebihan. Hal ini diungkapkan Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti.

"Ciri-ciri ini menandakan bahwa gerakan itu bersifat murni dan jauh dari pengaruh ditunggangi. Ciri seperti disebutkan di atas terlihat dalam gerakan mahasiswa sekarang. Oleh karena itu, saya yakin gerakan mahasiswa September 2019 ini adalah murni gerakan mahasiswa," ungkap Ray, Rabu (24/9/2019).

"Untuk menuntut dihentikannya segala upaya yang mengkorupsi agenda reformasi dan demokrasi. Itulah isu utama dari aksi mahasiswa ini," katanya.

Baca: Empat Pengunjuk Rasa di DPRD Jabar Jadi Tersangka Kasus Penyalahgunaan Narkoba

Yang dalam turunannya adalah lanutnya, menghendaki ditundanya berbagai RUU yang dianggap akan memberangus kebebasan warga negara.

Makin dalamnya intervensi negara terhadap wilayah privat, menurutnya makin istimewanya hak-hak koruptor dan menuntut profesionalisme polisi pasca institusi ini dijadikan sebagai institusi terpisah dari TNI.

Baca: Peringatan Dini BMKG Besok Kamis 26 September: Awas Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter

"Sebaiknya semua elit menjawab tuntutan mereka. Lebih dari sekedar memastikan menunda rencana pembahasan RUU tersebut. Tapi juga memastikan tidak adanya upaya mengistimewakan hak-hak koruptor melalui serangkaian pelemahan KPK dan meringankan tuntutan kepada mereka," ia mengingatkan.

"Saat yang sama elit juga memberi kepastian tidak akan ada tindakan kekerasan yang akan dialami oleh para aktivis, di mana pun ia berada. Gerakan dan tuntutan mahasiswa yang sekarang juga tak perlu dilabeli dengan macam stigma," lanjutnya.

Baca: Demo Mahasiswa 2019 Dapat Dukungan Aktivis 98

Tidak akan banyak membantu untuk meredam mereka. Alih-alih membantu, kata Ray lagi yang ada adalah stigma itu seperti mengulang kisah lama yang justru pernah dialami oleh sebagian elit saat ini.

"Saat mana mereka ikut serta dalam menggulirkan reformasi 98. Di saat itu, segala macam stigma ditimpakan pada aksi mahasiswa. Buktinya tak ada yang mampu meredam bergulirnya reformasi," Ray mengingatkan.

"Gerakan ini bukan hanya kritik pada legislatif atau eksekutif, tapi sekaligus pada aktivis 98 yang berada di barisan elit politik saat ini. Dengan berjejernya barisan aktivis 98 di elit politik, maka sejatinya gerakan massa dengan tuntutan seperti saat ini tidak akan terjadi," tegasnya lagi.

"Tugas kita bukan meredam aksi mahasiswa, tapi menjaga agenda reformasi jangan sampai dibajak untuk kepentingan pribadi atau kelompok," lanjutnya.

Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved