Mahfud MD Memprediksi 5 Tahun Kedepan Situasi Politik Indonesia Akan Diwarnai Politik Identitas

Gerakan Suluh Kebangsaan yang dikomandoi Mahfud MD memaparkan prediksi kondisi politik Indonesia 5 tahun kedepan atau periode 2019-2024.

Mahfud MD Memprediksi 5 Tahun Kedepan Situasi Politik Indonesia Akan Diwarnai Politik Identitas
Tribunnews.com/ Theresia Felisiani
Gerakan Suluh Kebangsaan yang dipimpin Prof Mahfud MD memaparkan prediksi: Menatap Indonesia Masa Depan, Rabu (25/9/2019) di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Gerakan Suluh Kebangsaan yang dikomandoi Mahfud MD memaparkan prediksi kondisi politik Indonesia 5 tahun kedepan atau periode 2019-2024.

Dari aspek politik, kata Mahfud, situasi politik tanah air masih akan diwarnai dengan politik identitas.

Terlebih pada 2021 bakal ada gelaran Pilkada Serentak.

"‎Kami baru saja menyelesaikan serangkaian FGD dan workshop, dalam lima tahun kedepan kira-kira seperti apa Indonesia. Dari aspek politik, situasi politik masih akan diwarnai politik identitas dan otonomi daerah," ucap Mahfud, Rabu (25/9/2019) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Baca: Raja Sapta Oktohari Dapat Dukungan dari Sesmenpora dan Erick Thohir Jadi Ketua KOI

Mengerasnya politik identitas agama yang tumbuh dalam masyarakat luas, kata Mahfud rentan dimanfaatkan kelompok-kelompok berkepentingan dan politik untuk mencapai tujuan jangka pendek atau pragmagtisme politik.

"Realisasi hasil pemilu 2019 yang membelah pemilih bukan hanya ideologis tetapi juga geografis dengan mendasarkan pada politik identitas menandai adanya ketegangan dan disharmonisasi di bawah permukaan yang laten," ungkap Mahfud.

Baca: Soroti RKUHP soal Kumpul Kebo, Hotman Paris Bicarakan tentang Nasib Kawin Siri jika Benar Disahkan

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Gerakan Suluh Kebangsaan, Alissa Wahid menuturkan otonomi daerah yang sangat kuat disertai dengan Pilkada Serentak akan mewarnai politik nasional terkait pragmatisme yang menggunakan sentimen primordial serta menguatnya oligarki dan poliarki politik.

Otonomi daerah yang telah berjalan dua dekade, menurut Alissa Wahid, tidak kunjung menunjukkan efek pemerataan dan lahirnya kepemimpinan yang genuine.

Baca: Malaysia Pulangkan 47 Mahasiswanya Karena Kabut Asap di Riau

"Yang terjadi adalah arus penebalan oligarki politik dan ekonomi dimana kesejahteraan dan kekayaan juga otoritas politik hanya beredar diantara mereka yang secara historis memang diuntungkan dan mapan sejak semulu," kata Alissa Wahid.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved