Aparat Keamanan Diminta Lebih Manusiawi Hadapi Persoalan di Papua

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaaan Mahfud MD meminta aparat keamanan agar melakukan tindakan-tindakan yang lebih manusiawi dalam menangani persoalan

Aparat Keamanan Diminta Lebih Manusiawi Hadapi Persoalan di Papua
Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Ketua Gerakan Suluh Kebangsaaan Mahfud MD bersama para tokoh Gerakan Suluh mungunjungi kediaman Wakil Presiden RI Jenderal (Purn) Try Sutrisno di Wisma Pertahanan, Jl Imam Bonjol No 30 Jakarta, Kamis (3/10/2019) sore. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Gerakan Suluh Kebangsaaan Mahfud MD meminta aparat keamanan agar melakukan tindakan-tindakan yang lebih manusiawi dalam menangani persoalan di Papua.

Sebab, ia mengingatkan, jangan sampai terjadi konflik vertikal antara masyarakat sipil dengan aparat yang kian melebar di Papua.

Hal itu disampaikan Mahfud MD usai menggelar pertemuan dengan Wakil Presiden RI Try Sutrisno di Wisma Kementerian Pertahanan Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019).

Baca: Bambang Soesatyo Terpilih Jadi Ketua MPR RI 2019-2024, Begini Profilnya

Baca: Try Sutrisno dan Mahfud MD Beri Catatan Penting Untuk Selesaikan Masalah Papua

Baca: Moeldoko Minta Buzzer Bersikap Dewasa

"Kita bertitip pesan dari rumah ini kepada aparat kemanan agar melakukan tindakan-tindakan lebih manusiawi," kata Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini juga mengatakan, keberadaan aparat seharusnya untuk menciptakan keamanan di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, aparat juga seharusnya melindungi hak asasi manusia (HAM) setiap warganya.

Kedua unsur tersebut, kata Mahfud, harus digerakkan secara seimbang dalam menghadapi suatu masalah termasuk soal Papua.

"Kalau meminjam istilah Bapak Kapolri, Pak Tito Karnavian, tantangan kita itu sekarang adalah bagaimana melindungi hak asasi manusia yaitu HAM dan menjaga 'kam' yaitu keamanan. Jadi antara HAM dan 'kam' itu harus sama-sama dijaga, dan itu tantangan," ujar Mahfud.

Mahfud menambahkan, untuk menyelesaikan persoalan Papua dalam jangka waktu dekat, perlu dihilangkan persepi tentang 'orang Papua' dan 'non Papua'.

Dalam jangka waktu panjang, harus dilakukan pendekatan kultural, keagamaan, hingga spiritual, bukan hanya pendekatan secara ekonomi.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved