Kuasa Hukum: Tuduhan yang Disangkakan KPK Terhadap Mujib Mustofa Belum Sepenuhnya Benar

Bahkan menurut Makhsyar, usia Mujib Mustofa masih relatif muda dan belum lama menjalankan usaha tersebut.

Kuasa Hukum: Tuduhan yang Disangkakan KPK Terhadap Mujib Mustofa Belum Sepenuhnya Benar
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas disaksikan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menunjukkan barang bukti berupa uang saat konferensi pers terkait OTT Perum Perikanan Indonesia di gedung KPK, Jakarta, Selasa (24/9/2019). KPK menahan dua orang tersangka yakni Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia Risyanto Suanda dan Direktur PT Navy Arsa Sejahtera Mujib Mustofa sebagai penyuap serta mengamankan 30ribu USD terkait dugaan suap kuota impor ikan tahun 2019. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim penasihat hukum Direktur PT Navy Arsa Sejahtera (NAS) Mujib Mustofa yang diwakili oleh Makhsyar Hadi, menyampaikan bahwa kliennya adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di sektor jasa kepabeanan.

Bahkan menurut Makhsyar, usia Mujib Mustofa masih relatif muda dan belum lama menjalankan usaha tersebut.

"Kegiatan usaha yang PT. Arsa jalankan adalah dalam bidang usaha jasa kepabeanan (custom clearance), bukan importir," ujar Makhsyar ketika dikonfirmasi wartawan, Sabtu (5/10/2019).

Pertemuan dengan Risyanto sendiri, menurut kliennya, terjadi karena pria yang telah diberhentikan dari jabatannya itu kerap menghubungi kliennya.

Ajakan pertemuan Risyanto ke Mujib, bahkan disebut berkali-kali dilakukan, dan selalu ditolak oleh Mujib.

"Adapun pertemuan dengan Dirut Perindo, RS (Risyanto Suanda), dikarenakan yang bersangkutan selalu menghubungi, bahkan mendesak MM (Mujib Mustofa) untuk bertemu," ujar dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, menjelaskan KPK melakukan operasi tangkap  tangan (OTT) terhadap Risyanto dan Mujib dalam kaitan kuota impor ikan jenis frozen pacific mackerel atau ikan salem.

Baca: Ustaz Yusuf Mansur Sampai Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo Hadiri Peringatan HUT Ke-74 TNI

Dari setiap kilogram ikan salem yang diimpor PT Navy Arsa Sejahtera (NAS), Risyanto menerima Rp1.300 kuota yang diberikan Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo).

Kepada PT NAS, rencananya sebanyak 500 ton, untuk bulan Oktober 2019. Sebelumnya, PT NAS diberi jatah kuota impor sebanyak 250 ton untuk Mei 2019.

PT NAS sendiri, dikatakan Saut masuk daftar hitam impor ikan karena pada 2009 melakukan impor melebihi kuota.

Halaman
12
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved