Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid Apresiasi Perpres Nomor 63

Perpres nomor 63 mewajibkan presiden dan pejabat negara lainnya menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidato di dalam maupun luar negeri.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid Apresiasi Perpres Nomor 63
TRIBUNNEWS/CHAERUL UMAM
Wakil Ketua MPR dari Fraksi PKB Jazilul Fawaid 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengapresiasi Presiden Joko Widodo ( Jokowi) yang menerbitkan Peraturan Presiden nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

Perpres tersebut mewajibkan Presiden, wakil presiden, dan pejabat negara lainnya menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidato di dalam maupun luar negeri.

Jazilul Fawaid mengatakan Perpres tersebut meneguhkan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang besar dan digunakan oleh banyak orang di dunia.

"Apalagi menurut saya bahasa Indonesia digunakan seperempat warga dunia. Di komunitas melayu ini. Jadi bahasa Indonesia bukan bahasa yang kecil, melainkan bahasa yang besar melayu ini,"ujar Jazilul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (9/10/2019).

Baca: Jadi Ketua MPR, Bamsoet: Inilah Takdir yang harus Saya Jalani

Baca: Munarman Bantah Mengetahui Peristiwa Penganiayaan Ninoy Karundeng

Baca: Ammar Zoni Pilih Langsung Kerja untuk Lupakan Kesedihan

Jazilul mengatakan berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 bahasa kita adalah bahasa Indonesia. Namun saat ini terkadang Bahasa Indonesia tercerabut dari budayanya, karena ada bahasa serapan yang bukan dari budaya Indonesia.

"Kalau serapan dari bahasa Jawa, bahasa minang, masih bagus. Kalau serapan dari bahasa lain menurut saya kurang penghargaan terhadap bahasa kita sendiri," katanya.

Ia menilai Perpres yang diteken Jokowi tersebut juga merupakan penghargaan bagi Bahasa Indonesia. Selain itu juga merupakan upaya untuk memasayarakat bahasa Indonesia di forum-forum internasional.

"Soal kepercayaan diri pada bahasanya pada budayanya, kadang membuat suatu negara tidak menggunakan bahasanya, atau supaya terkesan berbeda kita gunakan bahasa internasional, padahal kita bisa gunakan bahasa sendiri," pungkasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved