Rusuh di Papua

Menhan Ryamizard Ryacudu Dapat Gelar Adat Papua 'Wally' dari Suku Sentani

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mendapat gelar adat Papua ” Wally” dari suku Sentani, wilayah adat Mamta.

Menhan Ryamizard Ryacudu Dapat Gelar Adat Papua 'Wally' dari Suku Sentani
Ist/Tribunnews.com
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mendapat gelar adat Papua ” Wally” dari suku Sentani, wilayah adat Mamta. Pemberian gelar sebagai anak suku Sentani ini diberikan kepada Ryamizard saat mengunjungi Wamena, Kamis (10/10/2019). 

Selanjutnya Menhan beserta rombongan menyempatkan diri mengunjungi para pengungsi korban kerusuhan Wamena di beberapa lokasi penampungan, yakni di Posko Palopo Sentani, Yonif 751, Lanud Sentani, dan di Rindam.

Menhan juga mengunjungi para-para adat di Obhe Kampung Harapan, Obhe Ifar Besar, dan Obhe Doyo Lama. Dalam kesempatan tersebut Menhan memberikan bantuan bingkisan sembako.

Di Papua Menhan juga menandatangani prasasti Tugu Bela Negara sekaligus juga Tugu Peringatan penobatan Jenderal TNI ( Purn) Ryamizard Ryacudu Wally sebagai anak suku Sentani, Wilayah adat Tabi/Mamta.

Sementara itu, pengamat militer Mufti Makaarim menambahkan, prinsip penyelesaian persoalan kebangsaan yang bermartabat dan sesuai dengan semangat demokrasi adalah dengan mengakomodasi kepentingan dan aspirasi publik yang sejalan dengan UUD 1945 dan prinsip negara hukum.

"Jika membaca liputan media tentang kegiatan yang dilakukan Menhan Ryamizard Ryacudu dalam kunjungannya kemaren ke Papua dalam rangka mendengar aspirasi tokoh dan masyarakat Papua, maka beragam masukan yang telah dihimpun Menhan dan kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah patut mendapatkan perhatian," ujarnya.

Menurutnya, selain kunjungan dengan tujuan menyerap aspirasi masyarakat Papua paska terjadinya berbagai aksi kekerasan dan kerusuhan yang mengakibatkan korban jiwa dan harta beberapa waktu lalu, kunjungan ini diwarnai kegiatan simbolik 'perikatan keluarga' dengan mengangkat Menhan sebagai sebagai bagian dari marga Wally dari wilayah adat Mamta, Papua.

"Perikatan simbolik ini memiliki dua makna mendalam, yaitu 'pengakuan' persaudaraan Nusantara tanpa sekat wilayah dan suku dari masyarakat Papua kepada Menhan, yang ini dilakukan dengan tulus oleh masyarakat Papua yang memandang Menhan sebagai bagian dari mereka, sesama bangsa Indonesia,"urainya.

Makna kedua kata dia adalah pengakuan bahwa kehadiran Menhan Ryamizard sebagai 'simbol kehadiran negara' diterima dan diberi tempat terdekat di hati masyarakat Papua, sebagai saudara yang juga sedang mengangkat dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat seluruh anak bangsa.

Masyarakat Papua mengapresiasi dengan menyampaikan aspirasi mereka dengan terbuka dan rasa percaya bahwa pemerintah yang direpresentasikan oleh Menhan mendengar, menerima dan akan mewujudkannya menjadi agenda penting pemerintah.

"Kunjungan penting Menhan yang pernah menyatakan mewakafkan hidupnya bagi NKRI ini mengungkapkan fakta bahwa konflik dan kerusuhan yang selalu dimunculkan di Papua adalah upaya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin memecahbelah NKRI dan merusak citra masyarakat Papua yang notabene mencintai Republik Indonesia sebagaimana masyarakat di wilayah lainnya. Yang mereka inginkan adalah kehangatan hubungan dengan pemerintah dan kehadiran negara mendengarkan aspirasi mereka, yang kemudian diwujudkan dalam kebijakan dan agenda pembangunan Papua," bebernya.

Halaman
123
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved